Desa Gandusari : Membangun Bisnis untuk Petani

Desa Gandusari : Membangun Bisnis untuk Petani Desa Gandusari : Membangun Bisnis untuk Petani sapi2
Beberapa minggu lalu bertepatan dengan liburan sekolah, kita mencoba mengisi liburan dengan “sedikit berbeda”, yakni mengajak jagoan dan peri kecilku berkunjung ke tempat saudara di sebuah kota kecil kelahiran sang Proklamator Penyambung Lidah Rakyat, Bung Karno di Blitar. Tempat yang kita inapi adalah rumah saudara di adalah sebuah desa asri dengan nuansa dan atmosfer pedesaan yang teramat kental. Kebetulan jagoan dan peri kecilku sangat menikmati “jalan-jalan” yang tidak seperti biasanya ini. Tetapi ada suasana yang menyebabkan denyut desa itu terasa hidup dan ritmenya lain daripada desa-desa yang pernah saya kunjungi.

Di desa itu, banyak warga sibuk berlalu lalang dari subuh membawa jerigen berisi susu dengan motor dan sepeda. Sebagian membawanya sibuk menanam dan memotong rumput-rumput hijau yang diikat dan dibawa dengan motor maupun truk. Sementara beberapa dokter hewan serta beberapa mahasiswa kedokteran hewan sedang PKL berlalu lalang menambah gelegak atmosfer pagi itu begitu “hidup”-nya. Sementara lenguhan sapi dan aroma susu segar terasa menyergap di pagi itu. Ya desa saudara yang kami kunjungi merupakan salah satu desa yang dikenal sebagai “penghasil” susu sapi di Blitar.

Hampir setiap keluarga mempunyai sapi perah di situ, setidaknya per rumah, para petani mempunyai 1-2 ekor sapi perah di belakang rumahnya. Bahkan ada beberapa keluarga mempunyai puluhan sapi dan dioperasikan secara moderen. Pagi-pagi buta sudah banyak puluhan petani membersihkan kandang sebelum memerah susu sapi, bahkan beberapa petani sudah mengoperasikan alat khusus untuk memerah sapi untuk higenitas dan maksimalisasi pemerahan. Di sore hari sekitar jam 3, proses pemerahan kembali dilakukan. Per ekornya seekor sapi dewasa bisa menghasilkan 15-20 liter susu per hari. Sementara siang harinya sebagian petani menanam rumput khusus untuk konsumsi sapi di lahan-lahan di desa itu.

Hari itu, saya benar-benar menyaksikan sebuah fenomena sebuah desa yang sibuk yang lain daripada biasanya. Beberapa dokter hewan pun tidak kalah sibuknya di desa itu mengingat banyaknya sapi yang harus ditangani mulai dari perihal sakit sampai menyiapkan inseminasi buatan untuk sapi yang siap kawin. Beberapa truk yang dilengkapi alat pendingin susu agar susu tidak cepat basi tidak kalah sibuknya lalu lalang di desa itu untuk segera dikirim di sebuah perusahaan multinasional yang terkenal sebagai produsen susu tingkat nasional.

Beberapa KUD (Koperasi Unit Desa) yang beroperasi di situ menjadi “pengepul” susu untuk dikirim kepada perusahaan pembuat susu juga tidak “kalah sibuk”, gelontoran berliter-liter susu sudah cukup membuat para karyawan KUD sibuk melayani para petani yang menyetor susunya. Sesaat pikiran saya melayang pada berita yang baca di kereta api yang membawa saya berjalan dari Jakarta ke Blitar tentang TKI yang dihukum pancung sebuah negara di Timur Tengah. Saya yakin sekali, kalau setiap desa mempunyai “kesibukan” karena geliat ekonominya berjalan seperti di desa Gandusari, tempat saudara saya bermukim. Saya yakin fenomena sedih tentang TKI yang dikirim dari desa-desa di Republik ini tidak perlu terjadi.

Inilah idealnya pemandangan sebuah desa di negara tercinta. Republik ini mayoritas penduduknya tinggal di pedesaan. Tetapi seringkali kita mendengar cerita dominan nan sedih perihal para petani yang seakan “mati di lumbung padi” karena didera penggangguran. Sehingga lahan-lahan desa kosong ditinggal penduduknya karena melakukan urbanisasi ke kota. Bahkan banyak yang pindah ke mancanegara menjadi TKI. Sebuah skill dan kemampuan yang “jauh” kemampuan alami yang dimiliki para saudara kita yang menjadi petani. Sehingga penghargaannya rendah dan rentan “di-abuse” seperti peristiwa dan kejadian memilukan yang kita baca di media cetak maupun elektronik akhir-akhir ini.

Sepertinya merangsang tumbuhnya bisnis di pedesaan yang berbasis “kemampuan dasar” para petani dan hasil produk alamiah yang dimiliki setiap desa yang tentunya berbeda merupakan sebuah keniscayaan. Sepertinya industri yang pas yang akan mengangkat harkat banyak rakyat di republik ini salah satunya menumpukan industri yang berbasis agro. Karena kekuatan dasar yang dimiliki sebagian besar bangsa ini ada di bidang agroindustri. Jangan lagi menganaktirikan sektor ini, karena dari sinilah geliat bisnis dari para petani dimulai.

*Tulisan ini didedikasikan untuk Saudaraku yang menjadi petani dan nelayan yang terkadang “dilupakan” dan “dianaktirikan”.


Credit Photo : Private Collection

Previous

Merindukan Merek Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Next

Anomali Bank “Ndeso” BRI di Indonesia Best Brand Award (IBBA)

6 Comments

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM
    KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia, NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) , dengan produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahuin yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Solusi yang lebih praktis dan sangat mungkin dapat diterima oleh masyarakat petani kita dapat kami tawarkan, yaitu: BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON /NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS ( EM16+) + Sistem Jajar Legowo.
    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON/NASA merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah dengan kandungan asam amino paling tinggi yang penggunaannya sangat mudah, sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan/merehabilitasi tanah rusak akibat penggunan pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali, dan yang paling penting adalah relative lebih murah.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    CATATAN: Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu menjadi agen sosial penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    Semoga Indonesia sehat yang dicanangkan pemerintah dapat segera tercapai.
    Terimakasih,
    Omyosa — Jakarta Selatan
    02137878827; 081310104072

  2. salam kenal…..infonya sangat menarik nih

  3. Saya teringat di kala masih SD dulu, saat belajar tentang 4 sehat 5 sempurna yaitu susu, lengkap dengan gambarnya. Tapi sampai tamat SD menu makanan di rumah saya tidak pernah ada susu-nya. Salam Mas Donny, bukan berkomentar, tapi cuma numpang lewat doang.

  4. semangat terus belajar

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén