Cross Culture Understanding Dalam Bisnis Cross Culture Understanding Dalam Bisnis cross culture understanding

Seringkali dalam wacana bisnis, wacana dan perbincangan beraroma cultural acapkali menjadi list terakhir yang dipelajari dan dipahami. Kalkulasi berbau bisnis nan matematis lebih mendominasi dalam lansekap siasat bisnis. Dalam menyusun proposal bisnis misalnya. Memang tidak hal yang salah mengedepankan perhitungkan aspek untung-rugi dalam bisnis. Itu hal urgent. Tetapi mengabaikan pemahaman kultur budaya dalam memulai suatu bisnis di iklim budaya yang budaya dan adat istiadatnya yang berbeda, jelas sebuah tindakan “membahayakan” dalam bisnis.

Contoh paling sederhana saja di bisnis kuliner, kalau KFC pusat di Amerika tetap ngotot jualan ayam goreng di Indonesia dengan tetap kentang seperti yang mereka sodorkan di Amerika. Saya tidak yakin gerai KFC di Indonesia mengalami peningkatan secara signifikan di Indonesia. Karena persepsi makan di Indonesia, selalu dihadirkan dengan sepiring nasi, bukan kentang goreng. Atau Hoka-Hoka Bento, walaupun merupakan resto milik orang Indonesia ber-positioning restoran ala Jepang, tidak bakalan antriannya mengular kalau tetap kekeuh menjual makanan-makanan “mentah” saja seperti sashimi asli seperti yang disuguhkan di Jepang. Kalau dicermati dengan teliti, yang laku di restoran tersebut tentunya makanan ala Jepang yang sudah digoreng nan renyah bukan yang mentah !

Tak heran di sekolah-sekolah bisnis sekarang, di beberapa kurikulumnya menyisipkan beberapa pelajaran cross-culture understanding (memahami perbedaan budaya) untuk membantu memahami aspek budaya dalam bisnis. Bahkan saya dulu mempunyai teman dari Baltik yang bekerja untuk sebuah perusahaan handphone Nokia, disamping belajar bisnis di Jepang, dia mati-matian belajar budaya Jepang, termasuk mempelajari bahasa Jepang yang sangat tidak mudah. Tak heran menenteng kamus elektronik bahasa Jepang menjadi sarapan harian teman saya itu. Sebuah cara untuk bisa memahami cultural mind-set dalam bisnis secara langsung dikirim ke Negaranya langsung.

Sebuah mobil legendaris yang laku keras di dua-tiga dekade terakhir di tanah air adalah Toyota Kijang dengan sederet variannya (Innova, Avanza), itu karena kejelian melihat masih kuatnya ikatan kekerabatan keluarga besar yang kental di Indonesia. Sehingga mobil yang bisa mengangkut banyak orang, menjadi sebuah pilihan. Kejelian-kejelian seperti ini tidak akan lahir kalau pemahaman aspek budaya Negara lain hanya di permukaan saja.

Jadi kalau kita berniat memasuki pasar asing, tetapi tidak sempat belajar cross culture understanding seperti yang dipelajari di sekolah-sekolah bisnis, apa yang harus Anda lakukan?

Pertama, harus mempelajari bahasa setempat. Karenanya penguasaan bahasa asing suatu bangsa, terutama yang akan kita masuki merupakan pintu masuk penting. Karenanya kuasailah bahasa ibu. Barangkali bahasa Inggris adalah bahasa asing yang banyak digunakan di jagat ini. Tetapi menyederhanakan hanya belajar bahasa Inggris dengan asumsi bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang lazim di banyak Negara semata merupakan simplifikasi yang menyesatkan. Kecenderungan globalisasi barangkali benar adanya, tetapi regionalisasi kian menguat. Jadi pastikan jangan berpuas diri hanya bisa bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris, pelajari bahasa asing lainnya. Jadi, sempatkan mengambil kelas-kelas bahasa asing di tengah kesibukan Anda sekarang.

Langkah kedua, pemahaman kultur setempat menjadi target kedua yang dipelajari setelah kemampuan bahasa mulai bisa dimengerti. Maraknya beberapa business club saat ini, merupakan tempat yang pas untuk menguji sekaligus tempat cocok untuk memahami perbedaan budaya. Misalnya, bagaimana kita harus berempati dengan tidak menyediakan menu berbasis daging sapi ketika menjamu rekan bisnis kita dari India, karena itu pantangan berat. Atau tidak perlu datang membawa istri kita ketika menjamu bisnis dengan rekan bisnis kita dari Negara-negara Arab, karena bukan suatu yang lumrah membawa pasangan kita. Jadi membiasakan untuk mingle dengan relasi asing dengan kebangsaan yang berbeda itu penting. Jadi kita bisa mengetahui mana yang bisa dan mana yang tidak bisa. Jadi sempatkan untuk bergabung dengan klub bisnis yang relevan dengan core business Anda.

Memudarnya sekat-sekat Negara dan kencangnya iklim globalisasi merupakan sebuah kesempatan yang perlu diambil. Sudahkah Anda menyempatkan diri mempelajari kultur budaya calon mitra bisnis Anda?

Credit Photo : asoterralingua.blogspot.com