Core Business Beringsut: Dari Ayam ke CD Musik

Core Business Beringsut: Dari Ayam ke CD Musik Core Business Beringsut: Dari Ayam ke CD Musik chicken singsJujur saja, saya termasuk salah satu orang yang ikut berkomentar “miring” ketika KFC yang bisnis utamanya berjualan fast food ayam mencoba-coba berjualan CD music di gerainya. “Ini manuver bisnis yang buang-buang uang dan energi saja”, pikir saya kala itu. Betapa tidak di tengah revolusi  besar music, dimana kemudahan men-down load lagu di dunia begitu mudahnya, menyebabkan label raksasa pun kesulitan menjual CD music penyanyi atau grup band yang mereka dongkrak promosinya. Tahu-tahu sebuah gerai jualan ayam, yang core business-nya (bisnis inti) jauh dari urusan bersenandung di depan mic, tiba-tiba ikut cawe-cawe jualan menjadi sebuah pertanyaan besar bukan?

Terlebih dari kacamata prespektif bisnis, teorinya kalau akan ekspansi bisnis biasanya tidak jauh dari core business-nya. Jadi kalau ada biasa berjualan ayam goreng, ikut nimbrung jualan CD Musik, secara teori bisnis, “aturan mainnya” ditabrak. Memang bukan hal haram untuk memasuki bisnis yang jauh dari pakem yang biasa dimainkan. Tetapi melirik kesuksesan yang dikail, prestasi bisnis KFC yang jauh pakemnya layak disebut business breakthrough. Sebenarnya KFC tidak berpindah core business-nya. Tetapi, KFC dengan cerdas menggunakan medium CD Musik untuk melakukan “peremajaan” cara menjual ayam gorengnya. And it work !

Di awal program jualan CD ini dimulai, saya ingat band-band indie dan penyanyi “kurang terkenal” yang digamit dan diajak kerjasama, dijual CD-nya di gerai-gerai KFC. Alasannya jelas, untuk menekan production cost. Ketika pertama digagas, hampir semua menertawakan ide ini , bahkan tidak sedikit yang pesimis. Tak jarang frontliners di garda depan di-complaint, karena para frontliners mendapat semburan pedas dari pelanggan, terutama yang sudah gak tahan lapar,”Mau jualan ayam apa CD sih?” kurang lebih seperti itu pertanyaannya. Tapi agaknya sang pemilik sekaligus sang inisiator, Fabian Gelalel tidak bergeming. The show must go on!

Seiring dengan keberhasilan yang direngkuh, kalau dulu deretan penyanyi “kurang terkenal” yang mau dijual CD-nya di gerai KFC. Lama kelamaan, para penyanyi yang punya nama mulai mau didaulat untuk ikut menjajakan keping CD-nya di gerai ini. Tercatat saya ingat anak saya mendapatkan CD boyband Smash, band Ungu, band Wali dari gerai ayam goreng ini. Bahkan penyanyi sekaliber Agnes Monica mau dijadikan “brand-ambassador” iklan KFC, sebagai gantinya KFC menggelontorkan bantuan promosi album sang diva muda ini dengan uang yang tidak sedikit.

Sekarang penjual ayam goreng ini telah sukses mentasbihkan dirinya menjadi ikon music baru. Ada gula, ada semut, para perusahaan label beramai-ramai mendekat kepada sang penjual ayam goreng cepat saji ini. Sebagai catatan saja resto ber-icon kolonel tua bernama Sanders ini membukukan 850 keping CD per bulannya. Sebuah raihan yang tidak kecil di tengah lesunya pembelian CD musik.

Ada 2 hal menarik yang bisa diambil pelajaran bisnis dari kasus ini. Pertama, KFC menyadari betul bahwa gerainya sebagai tongkrongan anak-anak muda ini, akan lebih mudah kalau tersedia CD Musik yang menyertainya. Dengan menjual CD Musik itu, KFC sekaligus ingin memastikan pasokan pelanggan intinya yang didominasi remaja dan anak-anak ABG, sekaligus tempat perayaan ulang tahun anak-anak semakin aman. Ditambah dengan keuntungan yang dikail dari penjualan CD ini, merupakan nilai tambah tersendiri bagi KFC.

Kedua, KFC menyadari betul kekuatan “outlet channeling” yang dimilikinya (dan ini tidak dimiliki oleh perusahaan label), yakni banyaknya gerai di tempat-tempat strategis merupakan sarana ampuh untuk menjajakan CD musiknya. Kebetulan sekali, desain gerai KFC ini cocok untuk menjual CD yang pangsanya anak muda. Ini amat membantu sekali dalam mendongkrak penjualan CD musiknya.

Jadi berjualan di luar core business yang digeluti memang bukan hal yang tabu. Setidaknya dibuktikan dengan keberhasilan KFC. Tetapi perlu diingat perlunya keterkaitan bisnisnya, di kasus KFC ini, ada sebuah benang merah yang kuat antara konsumen anak muda ABG miliknya dengan CD musik yang dijualnya. Karena anak muda, biasanya lekat dengan musik. Ayo siapa berani mencoba “keluar” dari bisnis intinya seperti KFC ini?

Credit Photo : cutcaster.com

Previous

Sepenggal Insight Business dari Bilik Notaris

Next

5 Indonesia Living Legend Brands

5 Comments

  1. Rambat

    Seingat Saya, ini yg dikenal dg strategi korporat diversivikasi horizontal… Dimana perusahaan masuk ke bisnis lain untuk menggarap pelanggan yg sama.. Manfaatnya meningkatkan revenue stream perusahaan melalui taktik ‘rogoh makin dalam kantong pelanggan’ (share of wallet)

    • @Mas Rambat : Betul sekali Horizontal Diversification….wah diingetin sama pakar pemasaran nih, matur nuwun diingat istilah itu Mas Rambat :)) Sering-sering kita diberi pencerahan Mas 🙂

  2. wah nice info nih….emang bener sih rata2 biar album nya terkenal emang dimasukin ke gerai2 ayam yang satu ini…..yah hubungan timbal balik lah….penjual makanan bisa untung dan pemilik label/penyanyi bisa ikut untung…skarang udah gak jaman lagi kayaknya beli di toko2 dvd/bd….lebih praktis download dan gak perlu bayar mahal2…. ^^

    • Anton : buat saya yang menarik adalah, gerai penjual ayam ini bisa punya pikiran seperti ini dan pihak label musik tidak bisa “disalip di tikungan” olehnya…sebuah manuver bisnis yang menarik untuk disimak, thanks Anton untuk komentarnya 🙂

  3. Andreas Mulianto

    dulu ada yang pernah komentar mirip dengan artikel ini tentang bisnis McDonald. Katanya McDonald tidak lagi jual burger tapi menekuni 2 bisnis lain: 1. Real estate 2. Mainan. Hehe…kalo dipikir2 bener juga karena McD selalu punya lokasi di kawasan strategis dan jualan mainannya memang laris manis. Saya tidak tahu apakah McD pionir untuk bundle mainan dengan makanan utk si kecil, tapi usaha ini banyak juga diikuti oleh pemain2 lain.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén