Ciputra dan “Inovatif Entrepreneur”

Ciputra dan "Inovatif Entrepreneur" Ciputra dan "Inovatif Entrepreneur" ceo reference

Undangan untuk menghadiri acara CEO Reference dari kolega KAJI saya yang piawai ber-cas-cis-cus dalam bahasa Inggris dan Jepang yang juga President Direktur JAC Recruitment, Mariko Asmara-san sepertinya sayang untuk dilewatkan. Apalagi CEO tamu yang akan didapuk berbicara merupakan CEO yang berjam terbang tinggi, Ir.Ciputra, pengusaha papan atas sekaligus pendiri Ciputra Entrepreneur University. Sebuah kesempatan langka yang pantang untuk ditampik tentunya. Acara The CEO Reference bertajuk National Movement for Entrepreneurship yang dimoderatori Dr.Bayu Prawira Hie, Excecutive Director dari Intellectual Business Community berlangsung hangat dan komunikatif, ada atmosfer kenikmatan intelektual menggelayuti ketika menghadirinya.

Dengan jumlah pengangguran di tanah air yang bergerak cepat, sebaliknya kursi kerja yang ditawarkan bergerak dengan deret hitung sudah tidak bisa ditawar lagi, pilihan “menciptakan” entrepreneur merupakan sebuah pilihan keniscayaan. Dengan jumlah entrepreneur yang ada di kisaran 0,18 % dari jumlah total penduduk, tak ayal merupakan fenomena lumrah lulusan perguruan tinggi di Republik ini setelah kelulusan mempunyai “jeda menganggur” antara 6 – 12 bulan sebelum bekerja (Baca artikel : Pengangguran terdidik, Cak Eko dan Wirausaha). Menurut sosiolog McClelland, kemakmuran suatu Negara bisa tercapai bila minimalnya mempunyai 2% penduduknya berperan sebagai entrepreneur. Sebagai perbandingan, di Negeri jiran Singapura, tercatat entrepreneur berjumlah 7,2% dari jumlah penduduk. Agaknya gerakan menginjeksikan semangat entrepreneurship menjadi agenda yang mendesak.

Menurut Ciputra, Indonesia membutuhkan Inovatif entrepreneur, artinya entrepreneur yang mampu menciptakan nilai tambah (value added), bukan sekedar entrepreneur yang bertipe “broker” atau “berdagang”. Bukan berarti berdagang atau menjadi broker/perantara bisnis tidak termasuk kategori wirausaha. Akan tetapi, dengan menjadi inovatif entrepreneur inilah nilai value added yang terengkuh lebih maksimal, baik dari sisi daya tahan menghadapi persaingan karena barang dan jasa yang diciptakan nilai tambahnya tinggi sehingga susah ditiru pesaing, maupun dalam hal penyerapan tenaga kerja, biasanya tenaga kerja yang diserap lebih banyak ketimbang menjadi entrepreneur pedagang (trading).

Idealnya untuk dapat “melahirkan” entrepreneur yang inovatif setidaknya melekat 3 L (Lahir, Lingkungan, dan Latihan). Artinya kalo seseorang dilahirkan dari keluarga yang berprofesi entrepreneur akan lebih mudah diarahkan menjadi entrepreneur. Kalau lingkungannya mendukung pengkondisian menjadi entrepreneur yang handal akan lebih baik. Apalagi kalau disamping 2L di atas, ditambah L yang ketiga atau latihan (proses dan latihan), hal ini akan semakin mempercepat lahirnya entrepreneur.

Di Indonesia, dua L pertama (Lahir dan Lingkungan) kurang kondusif, mengingat tidak banyak anak yang “dilahirkan” dari keluarga yang entrepreneur, dan dari sisi lingkungan pun yang masih “mendewa-dewakan” bekerja kantoran dengan mengunakan kemeja “berdasi” dan bekerja di kantor orang lain juga masih menjadi pola pikir (mind-set) yang mendominasi. Agaknya L ketiga atau latihan (process) menjadi pintu masuk “mencipta” entrepreneur. Ini yang disadari betul oleh Ciputra, oleh karenanya gagasan mendirikan Ciputra Entrepreneur University digulirkan untuk melahirkan entrepreneur dari sisi latihan (proses pendidikan). Tak heran kurikulum yang disusun di universitas yang beliau dirikan mengedepankan hal itu. Seperti membuat business plan yang solid bahkan ada tugas membangun mini company mulai diintrodusir, bukan pelatihan membuat CV solid yang atraktif atau pelatihan tips melewati tes wawancara kerja. Pendeknya, “pengkondisian” membuka bisnis sendiri nan inovatif adalah mantra utama.

Agaknya untuk mengurangi pengangguran yang kian menggila di tanah air, apalagi pengangguran terdidik, pesan dari sang maestro Ir.Ciputra perlu diamini . Kampanye Gerakan Nasional untuk Entrepreneur perlu didukung sepenuhnya. Bagaimana menurut Anda ?

毬子 アスマラさんの親切には感謝いたします :)

Credit Photo : Intellectual Business Community

Previous

Berebut Tahta Raja Elektronik : Sony Vs Samsung

Next

Tahta Bisnis Untuk Anak Muda

13 Comments

  1. M. Surya

    Banyak memang para enterpreneur Indonesia yang mulai menyadari perlunya terobosan dibidang pendidikan. Seperti juga apa yang dilakukan oleh Sampoerna Strategic Foundation dengan sekolahnya. Seandainya para milyuner Indonesia itu membuka sekolah dari SD, SMP, SMA berkualitas internasional dengan gratis, atau dengan uang sekolah yang terjangkau oleh kaum miskin, 10 atau 20 tahun lagi Indonesia akan memiliki SDM yang handal. Semakin jauh dari kota besar semakin sedikit juga jumlah sekolah. Nah, anda yang pebisnis ajaklah rekan anda untuk bikin sekolah, atau bikinlah suatu yayasan yang membantu memberikan sumbangan bagi kesejahteraan para guru di pedalaman.

    • @M.Surya : Terima kasih Mas Surya atas kesediaanya mampir. Pendidikan memang problem kita semua, khususnya di Indonesia. Dengan segala hormat, kebetulan kita sudah membuka sekolah kecil-kecilan, memang tidak di pedalaman karena kemampuan kita terbatas tetapi setidaknya ada sumbangsih untuk pendidikan, sudah 3 tahun ini sekolah itu berjalan. Mudah-mudahkan diberi kekuatan untuk terus menggelinding, terima kasih masukannya.

  2. Contohnya innovative entrepreneur itu seperti apa Mas Donny?

    • @Hangga : inovatif Entrepreneur pada prinsipnya jasa dan barang yang dibuat mempunyai nilai lebih yang tinggi. Contoh paling telanjang kayu yang dibuat furnitur kemudian dijual, tentunya harganya berbeda dengan dijual gelondongan semata. Ada aksi “menambah” nilai barang dan jasa. menurut Ciputra, kalo sekedar membeli barang tertentu di suatu daerah A lalu dijual di daerah B dengan harga yang berbeda, itu namanya entrepreneur, tapi “inovatif”-nya kecil. Sehingga budah ditiru sehingga business model-nya “fragile” (rapuh). Kalo Inovatif lebih susah. Semoga penjelasan singkat ini membantu 🙂

  3. Jon

    Sebelum seseorang memutuskan untuk menjadi wira-usaha (enterpreneur), ada baiknya dia membaca ter lebih dahulu buku karangan Robert Kiyosaki mengenai 4 (empat) jenis kuadran: Employee (E), Investor (I), Self-Employed (S), Business-Owner (B). Memang indah jika kita akhirnya berhasil menjadi seorang enterpreneur, namun tidak semua orang dilahirkan atau memiliki bakat ke situ. Sebagai employee, kita hanya cukup memikirkan satu atau dua bidang saja. Tapi sebagai business-owner, kita harus menguasai semuanya, dari marketing sampai akunting. Intinya kita harus bisa ALL-ROUND. Dari 100 orang yg membuka bisnis, secara statistik hanya 1-3 orang yang berhasil. Ini menunjukkan betapa sulitnya tantangan untuk menjadi seorang wira-usaha. Namun, jika kita memang merasa bahwa “itu sudah menjadi kuadran yang cocok” untuk diri kita, saran saya: TANCAP BLEH !!! Sesuai dengan pepatah Jepang: “NANA KOROBI YA OKI” (Tujuh kali Jatuh, Delapan kali Bangun). Minna Gambarimashoo !!!

    • @Jon : Wah ulasan menarik, perihal Robert Kiyosaki pernah saya singgung di artikel di blog ini berjudul “Meretas Pindah Kuadran Agar Tidak Berdarah-Darah”. Untuk pindah kuadran ke kanan yakni menjadi Investor (I) atau Business-Owner (B) memang butuh totalitas dan komitment. Atau All-Round kalau istilah Jon-san. Jaa…..Ganbarimasho 🙂

  4. arif

    Maaf, sulit banget mengomentari tulisan diatas. Jika hanya untuk menambah khasanah pengetahuan, it is okay. Tapi jurang teori dengan praktek tetap menganga lebar. Saya (maaf) sudah sejak tahun 1994 berusaha (wiraswasta). Banyak hal di lapangan (yang karena kita adalah negara kepulauan dengan jumlah persebaran penduduk tidak merata dan warisan budaya penjajahan lebih 3,5 abad) memberikan jam pengalaman yang sangat banyak dengan rentang persoalan yang sangat lebar. Jembatan paling simpel dan mungkin pilihan instan adalah….. talkless do more. Semoga bisa!

    • @ Arif : Jadi artinya untuk menjadi entrepreneur berhasil harus “mencebur” ya Mas arif ? wah perlu nih kapan-kapan sharingnya ditunggu di Blog ini…..terima kasih bersedia mampir 🙂

  5. Topik yang menarik. Kalau berkaca dari diri sendiri dan sedikit tambahan lingkungan di sekitar, sepertinya enterpreneur sedikit susah tumbuh di negara kita.

    Salah satunya pertama adalah masalah mental. Kalau masalah pintar, mungkin orang kita (selain saya) bisa diadu namun kalau masalah mental mungkin masih perlu banyak belajar. Misalanya mampu terus semangat untuk jangka waktu yang lama. Susah untuk tepat waktu dsb. Pribahasa “hangat hangat tai ayam” spertinya lahir dari kondisi ini.

    Kemudian masalah profesionalisme. Kebanyakan orang hanya berfikir masalah uang, padahal pekerjaan tidak melulu masalah uang semata. Seorang teman bercerita, katanya susah untuk mendapatkan karyawan yang mau belajar dan berdedikasi tinggi pada pekerjaanya. Kebanyakan orang sudah puas asal sudah memiliki gaji besar.

    Hal lain dari pihak ketiga, yaitu pemerintah juga (sepertinya) tidak terlalu mendukung misalnya dengan menciptakan dengan iklim usaha dan aturan yang jelas. Dari awal buat usaha kita sudah diajar untuk tidak jujur. Pasokan energi seperti listrik yang stabil adalah contoh kecil lainya.

    Mudah mudahan pendapat saya di atas semuanya salah. Setidaknya tulisan di artikel ini sepertinya sudah memberikan contoh yang bagus tentang pentingnya entrepreneur. Dengan latihan, tekad dan terus belajar semuanya menjadi mungkin. salam

    • @Nyoman : Mas Nyoman, apa yang Anda paparkan memang betul sekali. Karena memang “kultur” meretas bisnis di negara kita belumlah tertradisi. Langkah-langkah untuk membumikan dan mengkampanyekan hal ini merupakan isu mendesak, apalagi dalam kondisi persaingan yang kian mengetat. Semoga semakin banyak orang Indonesia yang tertarik menjadi entrepreneur. Terima kasih atas masukannya Mas.

  6. Topik

    Bgus,indonesia hrus bsa maju

  7. sayyid

    ingin punya bisnis sekaligus menjadi entrepreneur
    hub 082110882585

    (untuk wilayah DKI Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén