CEO Perusahaan Asing : Mengapa Tidak? CEO Perusahaan Asing : Mengapa Tidak? ceo

Ada semburat decak kagum di dada, ketika bertemu serta mengobrol langsung dengan CEO GE Indonesia tersebut beberapa saat lalu, Handry Satriago. Banyak atmosfer positif yang menular kala mencerna setiap ulasan dan langkah-langkah strategis yang diambilnya. Duduk di kursi roda tidak memupus semangatnya terus berkarya. Kita tahu persis, tentunya ndak mudah untuk bisa menduduki kursi prestisius tersebut. Jangankan orang Indonesia, orang bule yang rambutnya pirang dan bermata biru sekalipun meskipun diembel-embeli pendidikan mumpuni dan pengalaman segudang belum tentu dapat merengkuhnya.

Setali tiga uang, di perusahaan multinasional yang berasal dari Negeri Matahari Terbit yang terkenal “pelit” memberikan kepercayaan kepada orang lokal sudah mulai melumer. Sebut saja CEO dari distributor motor Yamaha di tanah air PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) sejak tahun lalu sudah menempatkan pucuk pimpinan YMKI untuk dipegang orang Indonesia, Dyonisius Beti yang menggantikan Yoshiteru Takahashi-san. Putera Indonesia di PT.Astra Daihatsu Motor (ADM) pun dipercaya memegang kendali, Sudirman M.R ditabiskan jadi presdir menggantikan Takashi Nomoto-san.

Trend orang lokal yang menjadi nahkoda di kapal perusahaan asing di Indonesia kian menguat, tercatat masih ada sederetan nama beraksen Indonesia yang menjadi pimpinan perusahaan asing di tanah air. Darwin Silalahi, CEO Shell Indonesia, Suryo Suwigyo, CEO IBM Indonesia, Sutanto Hartono, CEO Microsoft Indonesia. Sebuah trend positif yang perlu disyukuri dan layak diapresiasi. Mencuatnya fenomena ini pastinya memang kalah pemberitaannya dengan dominasi cerita miris dengan cerita nasib “sedih” para TKI di luar negeri. Tetapi hal ini membuktikan tidak selamanya berbicara “keindonesian kita” harus dipenuhi cerita yang menguras air mata, sinisme dan negatif yang selama ini mendominasi layar kaca dan di media cetak. Masak bicara SDM Indonesia selalu diasosiasikan dengan eksportir TKI seperti pembantu rumah tangga, kuli bangunan saja bukan?

Beberapa saat lalu, majalah SWA mengulas dan menelusuri kiprah puak Indonesia yang menjadi CEO di beragam perusahaan Multinasional (MNC) di Indonesia. Tertarik? Bagi yang berkarier di MNC selayaknya Anda perlu menyimak beberapa resep taktis para penakluk puncak perusahaan multinasional ini. Beberapa tips coba saya share di sini. Pertama, pastikan mendapatkan “mentor” yang mendukung kinerja cemerlang. Di level ini, keinginan untuk terus melecut belajar menjadi kata kunci. Jangan sampai didekap “perasaan” nyaman yang berlebihan. Langkah selanjutnya meluaskan jejaring dengan rajin membuat exposure di tingkat global. Hal ini penting agar level lebih atas “ngeh” atas prestasi yang Anda gulirkan.

Langkah selanjutnya berusaha menciptakan kinerja ciamik secara konsisten. Jangan tergoda hanya mengerjakan proyek-proyek “besar”, tapi yang lebih penting proyek biasa yang disodorkan atau berasal dari ide sendiri digarap dengan penuh antusias dan mendapatkan hasil maksimal. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan orang lain. Level berikutnya adalah membangun kompetensi yang unggul. Salah satu caranya “tidak berdiam di satu bidang saja”, agar cakupan kompetensi lebih luas yang penting untuk jabatan yang lebih tinggi. Level berikutnya yang tidak kalah penting memupuk sikap percaya diri dan terbuka. Ini terkadang yang sering terlepas dari genggaman, berkumpul dengan rekan sebangsa tebal sekali kepercayaan dirinya. Tapi ketika bertemu dan berinterkasi dengan orang bule (asing) mendadak kepercayaan dirinya sirna.

Kalau posisi strategis di MNC sudah bisa direngkuh. Bukan hal yang mustahil, jenjang kursi yang lebih tinggi di headquarter (kantor pusat) MNC akan bisa dicapai pula. Apalagi dengan semakin ekspansif dan agresifnya perusahaan-perusahaan MNC, pimpinan lokal yang tentunya memahami konteks sosial, budaya dan masyarakat merupakan nilai tambah sendiri bagi para petinggi MNC. Masalahnya sekarang adalah mempersiapkan untuk itu, siap atau tidak?

Akhirnya, ungkapan nyinyir kalo bangsa ini “bermental tempe” adalah tidak relevan lagi dan perlu dibuang jauh-jauh. Apalagi, memang tempe adalah makanan secara riset punya kandungan protein tinggi. Kesempatan untuk menduduki singgasana perusahaan asing sudah dijamah banyak orang, premis “tidak mungkin” terbongkar sudah. Tertarik mengikuti jejak mereka? See you on Top…….

Mengucapkan Gong Xi Fat Choi untuk para kolega yang merayakannya, semoga pundi-pundi kesejahteraan dan kesuksesan selalu bersama Anda.

Credit photo : www.mediapalu.com