Building Indonesian Strong Brand

Building Indonesian Strong Brand Building Indonesian Strong Brand made in indonesia

Judul diatas diilhami dan diubah judul buku master piece-nya Building Strong Brands yang ditulis oleh “nabi-nya Merek” yang bukunya menjadi acuan wajib para pemerhati dan praktisi per-merek-an, David A.Aaker. Seorang Akademisi (Professor Emiritus di bidang Marketing) sekaligus praktisi merek dari Haas School of Business. Pakar strategi merek ini mengungkapkan pentingnya terus menerus membangun merek yang kuat agar tidak “tenggelam “ percaturan persaingan dunia yang kian mengetat. Ngomong-ngomong dengan merek Indonesia, bagaimana sesungguhnya dengan merek-merek asli dari Indonesia?

Salah efek negatif globalisasi adalah mengarahkan orang lari ke “satu titik”, tak ayal merek-merek global yang menyerbu Indonesia seringkali lebih banyak “diterima” konsumen ketimbang merek sendiri. Tapi sebentar itu cerita dulu, ketika masayarakat Indonesia masih menggilai dan melahap apapun yang berasal dari luar. Sekarang ceritanya lain, merek-merek asli Indonesia pun menggeliat dan mulai berkiprah. Di industri konveksi misalnya, dulu kita hanya dijadikan “buruh jahit” semata, lemparan pesanan dari para pemilik merek-merek asing yang mencari biaya murah proses produksi dan biaya tenaga kerja, mulai “berani” mengusung merek sendiri. Sebut saja merek The Executive, Hammer, Triset, Woods walaupun mereknya beraksen asing, sebenarnya adalah merek asli Indonesia. Sepertinya orang-orang Indonesia mulai “sadar” untuk menerima merek-merek Indonesia asli tersebut.

Idem ditto juga di industri sepatu, merek-merek seperti Spotec, New Era, Carvil, Pakalolo yang juga merek Indonesia asli mulai mendapatkan hati di konsumen Indonesia. Ramainya gerai-gerai mereka di mall-mall menunjukkan tingkat akseptasi konsumen yang cenderung meningkat. Merek-merek makanan dan minuman sepertinya melesak lebih cepat, produk Indomie dari PT. Indofood Sukses Makmur misalnya malah sudah merambah ke luar negeri (di Hong Kong dan Jepang, adalah hal mudah mendapatkan mie instan khas Indonesia tersebut). Teh Sosro yang dikenal dengan slogannya “Apapun makannya, minumannya tetap Teh Botol” juga merupakan merek lokal tangguh yang mereknya sudah menjelma menjadi merek generic, sehingga merek raksasa global Coca Cola pun kewalahan “menggeser-nya”.

Di sektor minuman susu yang pasarnya pekat dimasuki pemain multinasional seperti Nestle, Morinaga, Wyeth, merek asli Indonesia seperti SGM, Indomilk, Lactamil tergolong mempunyai konsumen yang fanatik. Bahkan ada di sektor-sektor tertentu merek asli Indonesia sudah mulai “mengglobal” meskipun baru beroperasi di area tertentu. Sebut saja, So Klin dan Daia yang sukses diterima di beberapa Negara Afrika dan beberapa Negara Asia. Masih banyak kalau mau disebut satu-satu merek-merek Indonesia yang mulai eksis baik di pasaran domestik maupun go international. Ternyata Merek Indonesia juga mampu berkiprah.

Saya melihat merek-merek Indonesia harus berstrategi lebih cerdik lagi, jika ingin eksis di persaingan merek domestik maupun global yang kian tidak mengenal tapal batas Negara ini. Dari beberapa cerita sukses merek-merek Indonesia, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting “road of success” membangun merek yang kuat :

Pertama, merek yang sukses karena menggunakan pola pemahami budaya lokal (local market approach) yang terkadang tidak “terendus” oleh merek global. Contoh paling telanjang adalah Teh Botol yang mereknya dibangun dari kebiasaan orang Indonesia minum teh. Hal ini susah untuk digeser, karena lahir dari budaya minum orang Indonesia. Atau menurunkan kebiasaan dari hal itu ke produk lain, contohnya permen merek kopiko yang diposisikan “permen sebagai gantinya ngopi”.

Kedua, ikut “mendompleng” merek besar yang memindahkan proses produksinya di Indonesia. Contoh ini banyak diadaptasi merek di sektor konveksi maupun sepatu. Pertamanya hanya berperan sebagai “tukang jahit”-nya dulu, belajar dari situ, bisa memulainya dengan melempar pakaian (apparel) maupun sepatu dengan label dan merek sendiri. Cara ini juga bisa dilakukan juga untuk menembus pasar internasional, karena sudah memahami kualifikasi serta standarisasi permintaan pasar luar. Ini akan memudahkan merek lebih mudah berkibar dan kuat.

Ketiga, membombardir pasar lain yang pasarnya sedang tumbuh, namun disisi lain belum banyak merek global kuat yang melakukan panetrasi kesana. Misalnya meniru langkah So Klin (Wings Grup) yang menyerbu di beberapa Negara Afrika. Tidak terlampau banyak merek global yang tertarik masuk, sehingga brand awareness bakalan lebih mudah. Jangka panjangnya, kalau pasarnya tumbuh, langkah membangun mereknya akan relatif mudah.

Bagaimana dengan perusahaan Anda? Langkah strategis apa yang dipilih untuk membangun merek yang kuat ?

Credit Photo : budyjullianto.blogspot.com

Previous

Kelas Menengah, Aspek Lokal dan Kemauan

Next

Ulang Tahun Ke-2 dan 3 Artikel Terbaik

2 Comments

  1. nur azhary r

    benar apa yang telah Bapak tulis di blog ,…

    sebenarnya kunci kesuksesan untuk menembus pasar global itu adalah keberanian,..
    seperti produk Wings dari indonesia. Wings adalah salah satu brand atau produk sang sangat cepat sekali berkembang.
    export produk ini bukan hanya ke asean saja karena Wings sedang merambah ke daerah asia dan pasar timur tengah.

    oleh karena itu, bagaimana kita tidak bangga dengan produk atau brand negara kita sendiri,…

    oleh karena itu, CINTAILAH PRODUK DARI NEGERI SENDIRI,…
    hhehehehehhehe

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén