Bisnis Kreatif ala Kementrian Desain Republik Indonesia

Bisnis Kreatif ala Kementrian Desain Republik Indonesia  Bisnis Kreatif ala Kementrian Desain Republik Indonesia foto dengan wahyu aditya

Porsi bisnis yang disumbang Industri Kreatif agaknya trend porsinya semakin terkerek naik. Kementerian Perekonomian memperkirakan industri kreatif bisa berkontribusi hingga 8% pada produk domestik bruto (PDB) pada 2015. Merujuk data staf ahli Menko Perekonomian Bidang Inovasi Teknologi dan Lingkungan Hidup, Bapak Raldi H.Koestoer, tahun 2008 kontribusi Industri Kreatif mencapai 7,28% dari total PDB. Dan, posisi Industri Kreatif sudah masuk 10 sektor industri unggulan Indonesia.

Melihat kecenderungan itu, agaknya tidak salah kalau ada nuansa lain dari Kopdar ke-10 yang diadakan KAJI (komunitas Alumni Jepang di Indonesia) hari Sabtu lalu menghadirkan pembicara yang berkecimpung di industri kreatif di restoran Torigen di bilangan Jakarta Selatan. Kalau biasanya menghadirkan pembicara dengan latar belakang beraroma teknis dan serius. Kali ini agak berbeda, salah satu pembicara yang dihadirkan merupakan anak muda kreatif, yang passion-nya tertambat pada dunia pernak-pernik animasi dan desain. Pembicara muda yang juga founder akademi animasi bernama Hellomotion ini pernah diganjar penghargaan oleh British Council sebagai Juara Dunia Creative Entrepreneur. Ada banyak “pesan” menarik yang dipresentasikannya dengan ala gaya sangat anak muda yang ditingkahi guyon cerdas serta tampilan goresan desain memukau nan lucu serta sering mengundang senyum lebar KAJIers yang hadir di siang itu.

Ya….dialah Wahyu Aditya yang sering dipanggil Waditya, yang hobi mengomik sejak masih duduk di bangku SD. Kiprahnya dalam memajukan atmosfer industri kreatif Indonesia memang patut diancungi jempol. Di samping mendirikan sekolah animasi yang diharapkan akan banyak melahirkan animator-animator produktif, Waditya juga mengelola festival tahunan yang bertajuk HelloFest Kostum Masa dan Film Pendek yang “mewajibkan” pengunjungnya datang dengan kreasi kostumnya. Festival tahunan sudah berjalan beberapa kali dan mampu menyedot pengunjung sampai 9000 orang.

Animator muda yang juga pencipta tokoh kartun Mas Gembol juga mempunyai manuver kreatif lain yakni mencipta distro kaos yang dilabeli Kementrian Desain Republik Indonesia (KDRI). Dari kaos-kaos yang dicipta KDRI, banyak menghadirkan konsep-konsep design yang sangat “nasionalis” dan berbau cinta tanah air. Kalau Anda mampir laman facebook-nya, terlihat desain-desain segar tentang pemujaan akan tanah air hadir dengan gaya anak muda. Bagaimana ide Pancasila “dikreasi ulang” dengan gelegak goresan anak muda misalnya. Atau menggambarkan tokoh-tokoh pewayangan seperti Bima dengan aksen “robotic” masa kini (mecha). Ada logo Garuda Merah yang cukup gagah yang didedikasikan untuk merayakan ultah RI yang menghembuskan ide segar lain, ketimbang logo ultah RI yang biasa kita lihat dari tahun ke tahun itu-itu saja.

Dibalik imaji dan kreativitas seninya menonjol itu, di sela presentasinya, tak urung menumpahkan sejumlah kritik dari prespektif desain dan animasi terhadap beberapa beberapa logo-logo yang ada di negeri ini yang dinilai kurang “catchy” di mata orang. Sehingga ada kesan kurang “friendly” menyeruak di mata desain dan pemerhatinya. Sehingga Waditya sering menyempatkan waktu mengulak-ulik desain baru beberapa logo tersebut dengan logo-logo yang lebih segar dan menarik. “Idealnya logo yang menarik dan friendly itu ketika diaplikasikan dalam medium apa saja”, paparnya ketika ditanya kriteria logo yang friendly.

Memang bisnis yang dilakukan Waditya ini tergolong bisnis yang modelnya mengharuskan lekat dengan kreativitas. Pengulangan ide adalah hal tabu serta terlarang keras dalam bisnis ini. Hal itu disamping menandakan ketidakreatifan hal itu juga menyiratkan lemahnya daya imajinasi sang kreator. Saya sendiri melihat, salah satu kekuatan industri Republik ini disamping bisnis berbasis agro industri adalah bisnis industri kreatif seperti yang digulirkan dan dimainkan oleh Waditya dengan Kementrian Desain Republik Indonesia-nya ini. Bangsa ini punya naluri dan sejarah panjang bermain di bidang yang sangat membutuhkan imajinasi otak kanan yang bertumpu pada kreativitas. Dan Bangsa ini kaya akan hal ini.

Sebagai informasi saja, batik yang termasuk kategori industri kreatif, tahun lalu membukukan nilai transaksi mencapai 3,2 triliun rupiah. Sedangkan nilai ekspornya meroket di angka US$ 17,32. Ada kecenderungan trend-nya menaik. Melihat fenomena ini, agaknya kita harus kembali menata ulang kekuatan bisnis negeri ini. Dan memfokuskan pada industry kreatif merupakan salah satu strateginya, karena banyak pekerja kreatif di negeri ini dengan latar belakang budaya berbeda yang menjadi penyumbang ide kreatif tak pernah henti untuk industri ini.

Kalau langkah ini berhasil, mempunyai trendsetter animasi sendiri yang sekarang disetir oleh Amerika dengan Pixar dan Walt Disney bukanlah hal sulit untuk ditandingi. Menciptakan animasi berbasis kekayaan budaya saja, apalagi kekayaan kreatif budaya ratusan suku-suku di nusantara tercinta yang belum terekspos luas merupakan kekuatan tersendiri.

Jadi tertarik mencemplung di industri kreatif seperti “Pak Menteri” KDRI, Wahyu Aditya?

Credit Photo : Jepretan Photo Ananda Setiyo Ivannato

Previous

Membangun Basis Promoter Solid

Next

Bisnis Berwawasan Kemanusiaan

4 Comments

  1. Ral

    Mas Don, Senang membaca tulisan dan kreasi anda. Bravo bro….

  2. re

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai BISNIS KREATIF ALA KEMENTRIAN DESAIN REPUBLIK INDONESIA.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di http://indonesia.gunadarma.ac.id

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén