Bisnis “Built to Sell”

Bisnis "Built to Sell" Bisnis "Built to Sell" house selling onlne

Beberapa saat lalu, mungkin kita pernah kaget atau malah terperangah, mengapa keluarga Sampoerna yang notabene perusahaannya dalam kondisi sehat wal afiat, malah leading di bidangnya memutuskan menjual mayoritas sahamnya ke Philip Morris di tahun 2005? Padahal, posisi keuangannya cukup sehat serta tidak sedang terlilit hutang . Yang pasti ada sederetan alasan mengapa sang pemilik (keluarga Sampoerna) memutuskan untuk menjual sebagian besar sahamnya, hanya menyisakan sahamnya sekian persen sehingga praktis keluarga tersebut “kehilangan kendali” mayoritas menjadi pemilik minoritas. Apapun alasannya, semuanya tetap berujung pada kalkulasi bisnis yang berujung keputusan untuk menjual perusahaan yang sudah dibangun.

Ternyata membangun perusahaaan (apalagi dengan bisnis model unik) yang kemudian diniatkan untuk dijual kembali sudah menjadi pilihan beberapa pebisnis. Kebetulan saya mampir ke situs milik John Warrillow pemilik web www.builttosell.com menyebut separuh dari pemilik bisnis di Amerika Serikat yang jumlahnya 27 juta berniat menjual bisnisnya dalam jangka 10 tahun ke depan. Alasannya beragam mulai dari ingin pensiun dari bisnis pada umur yang ditargetkan, pingin rileks dan travelling kemana-kemana dengan bebas tanpa beban. Ada juga yang ingin menggenggam uang cash yang cukup memadai di usia lanjut, ada juga ingin pindah jalur bisnis yang memang passion-nya ada di situ. Celakanya, hanya 1 dari 100 pemilik bisnis yang sukses menjual bisnisnya dalam setiap tahun. Di situsnya yang elegan dan bergaya minimalis, termasuk blog-nya, banyak tulisan dan tips manuver bisnis yang layak disimak dan dipraktekkan, terutama yang ingin sukses “menjual” bisnisnya.

Sedikit informasi, John Warrillow adalah penulis buku best seller berjudul Built to Sell: Turn Your Business Into One You Can Sell. Beliau punya pengalaman menjual empat perusahaan. Yang terakhir adalah perusahaan Warrilow&Co yang dijual ke The Corporate Execution Board di tahun 2008. Sebuah perusahaan kecil yang mempelajari dan membuat laporan khusus tentang perusahaan kecil untuk ditransformasikan menjadi perusahaan yang menguntungkan. Jadi untuk menjual perusahaan tidak perlu harus besar dulu, yang penting prospektif. Di Amazon.com bukunya pernah dikukuhkan menjadi buku yang laris.

Diantara strategi yang dia nasihatkan adalah menstandarkan proses kerja yang telah distandarkan, meskipun perusahaan kecil. Standarisasi ini membuat membuat sistem bekerja berdasarkan sistem bukan orang. Dia mencontohkan bagaimana sebuah perusahaan konsultan manajemen dengan pembicara terkenal dengan buku-buku best seller akan menjadi “sulit dijual” karena perusahaannya walaupun kokoh dan sehat secara keuangan tetapi karena “ketergantungan” yang tinggi terhadap sang pembicara, menyebabkan agak susah “menjual” perusahaan tersebut. Jadi pastikan kalau berniat menjual perusahaan yang kita bangun, pastikan sistem baku dibangun dengan solid, jadi siapapun orang yang akan menggantikannya tidak akan mengganggu cash flow perusahaan.

Ada juga pantangan yang kudu dilakoni, berbeda dengan pengelolaan bisnis pada umumnya, John Warrillow menyarankan untuk tidak memberikan opsi saham kepada karyawan yang sekarang menjadi trend. Karena hal itu akan menyulitkan ketika perusahaan akan dijual, karena karyawan yang sudah dibagi saham telah mempunyai hak suara. Sebagai gantinya, disarankan untuk memberikan bonus berupa cash reward tahunan. Karena perusahaan memang sudah diset-up untuk dijual kembali.

Saya pribadi melihat bisnis “membangun perusahaan untuk dijual” merupakan bisnis yang menarik. Kebetulan ada seorang kawan yang melakukan hal serupa. Kebetulan bisnis intinya adalah mengelola serta mencetak internal magazine/internal news yang dipunyai perusahaan-perusahaan sebagai sarana komunikasi internal (baik dengan karyawan maupun dengan konsumen). Jadi perusahaannya menyediakan tim redaksi, peliputan, designer serta tim marketing untuk mencari iklan sendiri. Sangat sempit cakupannya (niche market). Setelah hampir 8 tahun berjalan, akhirnya bisnis itu bisa dijual kepada investor yang tertarik. Saya tidak tahu beberapa besarnya, tapi saya menduga pasti “ lebih berharga” ketimbang effort yang dikeluarkan ketika membangun perusahaannya tersebut.

Tertarik menjual perusahaan Anda? Atau malah tertarik menjadi investor dengan membeli perusahaan-perusahaan prospektif ?

Credit photo : www.offplanpropertyexchange.com

Previous

Petualangan Wirausaha Brilian Richard Branson

Next

Viral Marketing di Era Social Network

2 Comments

  1. Andreas

    Seperti biasa tulisannya selalu menarik. Biasanya orang yang membuka bisnis sendiri adalah orang yang punya passion tertentu. Karena punya passion, dia pun mencoba mewujudkannya dalam bentuk bisnis. “I can prove that I can do it” begitu kira2 kalau dia adalah seorang karyawan, dan sudah bosan dengan bekerja untuk orang.

    Argumennya adalah kalau tanpa passion biasanya bisnis tidak akan berhasil, karena kadar perseverancenya juga kurang. Apalagi tantangan di dunia bisnis, apalagi yang masih start-up pasti begitu besar.

    Nah kalau sudah merupakan passionnya, dan berhasil melewati berbagai tantangan, sehingga bisnis berkembang baik, pertanyaannya menjadi, “apakah ownernya akan ‘tega’ untuk menjual bisnisnya?”. Ini mungkin yg menjelaskan kenapa hanya 1 dari 100 pemilik bisnis yang bersedia menjual bisnisnya.

    Kalau saya sih mungkin lebih baik pindah sisi meja dan menjadi sisi pembeli bisnis, walaupun supplynya pasti amat sangat jarang. Saya tidak tahu apakah penjual bisnis itu bisa disebut beruntung, karena pasti patah hatinya harus menjual bisnisnya yang dibesarkan dengan susah payah. Tapi memang selalu ada peristiwa “one in a milllion”. Dan itu yang dimanfaatkan oleh John Warrilow untuk menjadi penulis buku laris…ini yang justru bikin saya juga kagum 🙂

    • @Andreas : terima kasih atas apresiasinya 🙂 terkadang kita memang perlu melihat sesuatu hal dari prepektif lain seperti yang dilakukan John Warrillow….

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén