Bisnis Berwawasan Kemanusiaan

Bisnis Berwawasan Kemanusiaan Bisnis Berwawasan Kemanusiaan occupy wall street21

Greed, for lack of a better word, is good. Greed is right. Greed works. Greed clarifies, cuts through, and captures, the essence of the evolutionary spirit” (Gekko dalam film Wallstreet).

Dua minggu lalu di sebuah kamar hotel yang sepi tempat saya menginap, sebuah stasiun berita CNN membentangkan berita akan maraknya serangkaian pemrotes akan “ketidakadilan” wallstreet yang dikenal sebagai “Occupy Wallstreet”. Di siaran itu gambar-gambar para demonstran yang nekat membuat kemah-kemah meneriakkan “Kemarahan terhadap Wallstreet”, dibubarkan dengan paksa oleh para polisi. Yang melawan, tidak ada ampun mereka ditangkap oleh para polisi. Sebuah fenomena yang agak jarang dilihat di negara yang mengklaim diri sebagai negara kampium demokrasi, demonstran ditangkapi. Mencoreng kewibawaan Wallstreet dan Amerika ? atau betul-betul hal itu “mengganggu” ketertiban?

Kurang sehatnya ekonomi Amerika Serikat akhir-akhir ini (Baca : Ekonomi Amerika “Meriang”, Siapkan Sekoci Bisnis), agaknya membuat sedikit banyak tudingan jari masyarakat Amerika menunjuk muka Wallstreet yang merupakan representasi halaman depan kapitalisme sebagai biang keroknya. Ramainya demonstran yang marah, kecewa, protest terhadap “Wallstreet” mengingatkan saya akan film lama tentang Wallsreet di awal 1990-an. Salah satu tokoh kontroversi yang ditonjolkan di film berjudul Wallstreet tadi adalah Gekko. Teriakannya akan perlunya “kerakusan” dalam berbisnis terasa menggema. “Greed is good” yang diucapkan Gekko yang diperankan oleh Michael Douglas terasa begitu menggema di seluruh dunia. Terlebih sejak runtuhnya kompetitor ideologis Amerika Serikat yakni Uni Soviet. Seakan mengamini, bahwa pemujaan terhadap kapitalisme adalah benar adanya.

Tapi ketika raungan kapitalisme mendadak dijawab dengan melonjaknya pengangguran, meriangnya ekonomi, rontoknya surat-surat berharga. Fenomena menikam tadi seakan melahirkan kesangsian akan kapitalisme di pusat kapital dunia itu sendiri. Dan berdirinya kemah-kemah pemrotes tadi hanyalah asap dari sebuah api akan akibat dimana pemujaan berlebihan akan “perlunya keserakahan dalam berbisnis” yang dianggap sesuatu yang sah nan lumrah adalah hal yang sangat membahayakan.

Ilmu bisnis, di bangku kuliah dimanapun yang mengedepankan akan perlunya optimalisasi, efisiensi tidaklah salah. Tetapi mengencani hal tadi semata tanpa dibarengi sikap yang mengedepankan kebersamaan, penghargaan tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan alam semesta (lingkungan) merupakan pendekatan yang mengkhawatirkan. Kalau tidak, akan hadir ilmu bisnis yang muncul dengan wajah garang. Pada titik itu, menyebabkan lahir sikap egosentris pribadi yang mati-mati-an menyusun bentengnya sendiri dan kekayaan serta kekuasaan sendiri. Alpa akan kemashalatan orang lain.

Lebih celaka lagi, muncul dengan perilaku dermawan dalam berbisnis, hanya dianggap sikap lemah yang akan memperkuat calon kompetitor. Kalau itu terjadi, tidak heran akan muncul Gekko-Gekko baru yang menyesaki rimba perbisnisan, dimana kegilaan akan keserakahan menjadi hal yang umum dan wajar. Tak pelak lagi, rimba bisnis bermetamorfosis tak ubahnya lahir menjadi rimba sesungguhnya. Dimana yang kuat menginjak yang lemah merupakan hal yang lumrah.

Belajar dari fenomena Amerika Serikat yang gagal, sebelum terlambat. Agaknya perlu mengerem sikap ini dengan tidak membiarkan peran-peran perusahaan yang menguasai dan bermain di segala lini dari hulu ke hilir secara lebih tegas. Jangan sampai terjebak dengan jargon kebebasan, yang membolehkan siapapun boleh memasuki lini usaha. Tetaplah berbeda antara yang kuat yang lemah. Hal itu sama dengan memasukkan hariamau dengan anjing untuk bersaing berebut sekerat daging didalam kadang yang sama. Kepastian Harimau di atas anjing dalam memenangi persaingan sekerat daging sangatlah besar. Oleh karena itu perlu pembagian “kandang” yang proporsional sehingga mampu melahirkan persaingan yang sehat di antara sesamanya.

Kedua, perlunya pengajaran ilmu bisnis yang ditemani ilmu-ilmu yang “mengingatkan” akan perlunya wajah-bisnis berwajah keramahan akan kemanusiaan. Bukan pelajaran bisnis yang mengedepankan pemujaan akan kecepatan dan efisiensi semata tetapi juga perlunya welas asih dalam berbisnis. Ada banyak teknokarat dan pebisnis yang lulus dari kampus-kampus Amerika yang punya peran vital di konstelasi bisnis di Indonesia. Tetapi, semoga tidak lahir Gekko baru sekembali ke Indonesia.

Belum terlambat untuk tidak bernasib seperti Amerika bukan?

Credit Photo : www.vozetrrina.blogspot.com

Previous

Bisnis Kreatif ala Kementrian Desain Republik Indonesia

Next

Mengibarkan Employer Branding Strategi

2 Comments

  1. Andreas Mulianto

    Don, lagi2 artikel yang menarik. Berikut komentar saya:

    Peter Drucker pernah mengajukan The Theory of the Business yang sebenarnya bisa menjawab masalah diatas. Berikut saya ambil dari artikel di internet.

    According to him, all organizations, whether they are businesses or not, have a theory of business – a set of assumptions on which the organization is built. These assumptions shape the organization’s behavior, determine it’s decisions and define success for the organization.These are the assumptions about markets and competitors, mission of the organization and it’s strengths and weaknesses.

    To be successful, according to Drucker:
    1. The assumptions about environment, mission and core competencies must fit reality.
    2. The assumptions about the environment, the mission and the core competencies must fit each other.
    3. The theory of the business must be known and understood throughout the organization.
    4. The theory of the business has to be tested carefully.

    Pada point pertama, jelas disebut bahwa asumsi perusahaan tentang lingkungan harus sesuai dengan kenyataan. Sebuah bisnis tidak bisa beroperasi lepas dari lingkungannya. Apabila bisnis itu memiliki misi yang malah menghancurkan lingkungan (tidak menghargai lingkungan, tidak menghargai manusia, etc.) maka bisnis itu tidak akan bertahan, karena kalaupun sukses itu akan berlaku hanya di jangka pendek.

    Drucker sendiri pernah menyatakan keprihatinannya melihat eksekutif2 di Amerika mendapatkan kompensasi yang gila2an besarnya dan jumlahnya bisa beratus2 kali lipat atau malah ribuan kali lipat dibandingkan karyawan di level bawah. Ini menunjukkan perusahaan tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Perusahaan mengasumsikan bahwa lingkungan akan menerima bahwa eksekutif mereka pantas dibayar setinggi itu.

    Ini adalah pelajaran berharga buat kita semua, baik pelaku bisnis maupun bukan..

    • @Andreas : Bro Andreas terima kasih atas sharingnya…..ya fenomena “occupy wallstreet” harusnya menjadi pelajaran berharga cetak biru manajemen dan bisnis Republik ini untuk tidak jatuh pada kubang yang sama….

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén