Berpikir dan Berperilaku Efektif

nine dot2 Berpikir dan Berperilaku Efektif Berpikir dan Berperilaku Efektif nine dot2Suatu saat saya jalan satu mobil dengan seorang kolega yang cukup sering diundang dan menjadi pembicara di perusahan-perusahan. Sembari “menikmati” macetnya Sudirman siang itu, kebetulan teman saya disamping berlatar belakang bisnis dia juga punya basis filsafat yang kental, melempar sebuah perbincangan yang cukup menggelitik. “Suatu saat ketika kita didera kekurangan ketika saya masih kecil, Ibu saya pernah disambangi salah seorang keluarga kami, ketika itu Ibu disalami oleh saudara itu dan diselipi amplop uang yang lumayan”, kata Kolega saya membuka pembicaraan. “Yang saya heran isak tangis Ibu saya lebih keras setelah diberi amplop tadi.”

Isak tangis Sang Ibunda yang mengeras tadi, menyebabkan Kolega saya tadi bertanya,” kenapa harus menangis, kan diberi rezeki, harusnya kita bersyukur?”. Ibunya menjawab dengan sesenggukan”, Aku menangis bukan karena saya tidak mau bersyukur, tetapi menyesali mengapa kenapa posisi kita yang diberi amplop uang? Bukan kita yang menjadi pemberi amplop uang?” Jawaban tegas Ibundanya di masa itu terngiang dan terekam kuat di pikiran kolega saya sampai saat ini.

Jawaban Ibunda kolega saya di mobil tadi mengingatkan saya tentang salah satu peran penting elemen untuk berpikir efektif yakni perlunya melihat permasalahan dengan pemikiran mendalam. Tidak sekedar “menerima”  yang ada serta mengamininya tanpa berpikir panjang. Memahami “ide dasar” serta membuang bunga-bunga tetek bengek yang tidak penting merupakan isu utama. Sepenggal obrolan di atas menggambarkan betapa memposisikan sebagai “tangan di atas” itu merupakan hal penting bukan karena sok-sokan ingin dianggap orang dermawan dan berjiwa welas asih. Namun lebih dari itu, keinginan untuk menjadi “pemberi” mengisyaratkan mentalitas yang anti dikasihi dan bermental diri untuk “kaya”. “Keluarga saya dulu tidak kaya-kaya amat, tapi saya dididik berperilaku “kaya” oleh keluarga kami”, kata Kolega saya.

Jawaban tadi mengisyaratkan bahwa berpikir dengan pemikiran yang mendalam telah dicontohkan oleh Ibundanya tadi. Oleh karenanya, belajar membuang bunga-bunga tetek bengek yang melingkupi suatu masalah dan benar-benar mencari tahu apa-apa yang menjadi esensi yang benar-benar penting memang perlu dicangkokkan sejak dini ketika kita ingin berhasil menerapkan pola pikir efektif dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian yang mendalam merupakan fondasi untuk sukses. Dalam hal apapun yang kita lakukan, usahakan perdalam keahlian dan pengetahuan kita dengan dengan konsep fundamental.

Kegagalan berpikir dengan konsep fundamental akan membawa Anda dalam kondisi dalam alur pikiran yang datar-datar saja, atau sering disebut berpikir vertikal semata. Gagap untuk bertanya lebih lanjut dengan pertanyaan-pertanyaan efektif nan lebih fundamental. Padahal menghadirkan pertanyaan-pertanyaan efektif ini akan membuka pikiran ke arah insight dan solusi baru. Pertanyaan yang efektif akan membongkar asumsi-asumsi yang tersembunyi. Dalam konteks bisnis, membangun pola pikir yang fundamental dengan membiasakan mempertanyakan sesuatu itu adalah hal penting.

Ebay, salah satu situs lelang terkemuka di dunia, lahir karena Pierre Omidyar “rajin” memikirkan serta mempertanyakan efektivitas lelang dan cara kerjanya. Dia rajin mengulik lebih lanjut dan mencari tahu bagaimana kalau peserta lelang yang diraup lebih bisa mengajak orang lebih banyak.  Setelah rajin bertanya hal-hal yang fundamental, maka lahirlah situs lelang di internet yang dikerumuni jutaan orang. Salah cara berpikir fundamental adalah dengan mengeksplorasi lebih lanjut dan mendalam perihal sesuatu dengan pandangan kritis. Pertanyakan suatu fenomena dengan sederetan pertanyaan seperti: “Apa selanjutnya ?”, “Kalau begitu, bagaimana selanjutnya?”,  ataupun “Apa yang harus dilakukan lagi sekarang?”

Kalau kita menjadikan cara berpikir fundamental ini sebagai sebuah kebiasaan, maka kapasitas dan kekuatan mental menjadi pemikir yang efektif dan kreatif terbuka lebar. Meminjam kata-kata filsuf Rene Descartes, “Cogito ergo sum”…..saya berpikir, maka saya ada (eksis).

Tanggal 27 April 2013, Blog Manuver Bisnis berumur 4 Tahun, tidak terasa sudah 4 tahun berjalan. Semoga Blog ini tetap bisa berbagi dengan para pembacanya. Happy Birthday Blog Manuver Bisnis 🙂

Previous

Revolusi Konsumen Kelas Menengah Indonesia

Next

Memahat Masa Depan ala Toyota

1 Comment

  1. memang semuanya butuh usaha yang keras dan kesabran. trims untuk tipsnya 9 Cara Berbisnis Wirausaha Sukses

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén