Berkongsi atau Bisnis Sendiri ?

Berkongsi atau Bisnis Sendiri ? Berkongsi atau Bisnis Sendiri ? kongsi jeff bauche1

Dengan sedikit perubahan, poin-poin dari artikel Berkongsi atau Berbisnis Sendiri ini pernah di-share dan dimuat di majalah SWA No.13/XXVI/24 Juni-4 Juli 2010 hal 110

Terkadang kita sering melihat atau bahkan mengalami sendiri, bisnis dibangun dengan berkongsi, baik dibangun dengan kolega kita maupun dengan mitra yang masih mempunyai hubungan kekerabatan sendiri mengalami keterpurukan, bahkan kerugian yang menyebabkan usaha kongsi tersebut ditutup. Penyebabnya bisa beragam mulai dari salah menerapkan strategi bisnis hingga “salah urus”. Tidak jarang, kongsi bisnis diakhiri dengan kepiluan, bahkan tidak jarang hubungan pertemanan yang dibangun sebelum berkongsi akhirnya mengalami “keretakan” yang serius. Di sisi lain banyak juga kita lihat teman-teman kita yang membangun bisnis dengan perkongsian, profit-nya melenting, hubungannya langgeng dan mesra bahkan cakupan kongsi bisnisnya kian meluas. Artinya kongsi bisnis yang dibangun menghasilkan hasil dengan aroma legit. Jadi gimana seharusnya, kalau kita ingin membangun bisnis, apakah kita perlu berkongsi atau tidak?

Memang tidak semua tipe bisnis “mengharuskan” membangun kongsi dengan pihak lain. Karena pada titik tertentu ada bisnis yang bisa dan perlu dijalankan sendiri tanpa harus berkongsi. Misalnya kemampuan modal dan kemampuan teknis yang dimiliki sangat memadai. Atau sang pemilik bisnis mempunyai “ego” yang cukup kuat, dalam hal ini memungkinkan untuk memulai bisnis sendiri saja, nanti kalau dipaksakan berkongsi malah akan “blunder” karena ego terlampau kuat, dan akan mereduksi “Chemistry take and give” yang merupakan pilar penting dalam berkongsi. Daripada mengalami “perpecahan” yang berujung pada “perceraian” usaha yang terkadang menyakitkan, sangat disarankan untuk memulai bisnis sendiri saja. Karena kebijakan perusahaan yang akan digulirkan akan lebih bisa segera dieksekusi tanpa harus “berkonsultasi” dengan mitra kongsi bisnis. Jadi eksekusi bisnis akan lebih cepat dan biasanya akan ada kepuasan tersendiri mengeksekusi ide bisnisnya. Chairul Tanjung sukses “membesarkan” grup Para karena hampir semua idenya bisa diterapkan dalam grup bisnisnya. Dialah think-tank di belakangnya, dialah yang menggulirkan. Karena hampir dikatakan dia adalah “penjelmaan” dari grup Para itu sendiri.

Terus, kalau kita memutuskan membangun bisnis dengan berkongsi dengan pihak lain, kiat apa saja yang perlu diperhatikan ? Kebetulan saya punya sedikit pengalaman membangun kongsi bisnis kecil-kecilan, ada yang berhasil dan ada yang “tersandung”..hehehe. Berdasar pengalaman itu akan saya coba share disini “rambau-rambu” yang perlu diperhatikan apabila ingin membangun kongsi bisnis dengan kolega kita.

Pertama, pastikan mitra bisnis yang kita gandeng, kita sudah “mengenalnya” dalam waktu relatif lama, khususnya karakter dan kemampuan dalam bisnis yang digeluti bersama dalam perkongsian. Fakta membuktikan kongsi yang dibangun karena ada “pertemanan” di masa lalu lebih langgeng, ketimbang kongsi bisnis yang dibangun hanya “didasarkan” pada ikatan kongsi satu tujuan bisnis yang sama.

Kedua, pastikan visi dan misi bisnis yang diusung dengan mitra kongsi bisnis sejalan dengan misi bisnis kita. Artinya tidak perlu semua visi dan misi bisnis yang kita inginkan sepenuhnya sama dengan visi dan misi bisnis mitra kita, tetapi setidaknya visi dan misi “utama” haruslah sejalan dan sebangun. Misalnya kita ingin nantinya kongsi bisnis yang dibangun nantinya, profit yang ada haruslah dibagi (deviden) sekian persen, karena kita membutuhkan deviden itu untuk ekspansi usaha lain. Ternyata mitra bisnis kita, karena sudah memiliki unit bisnis yang banyak menginginkan deviden tidak dibagi tapi “dikembalikan” untuk membesarkan aset.

Ketiga, ini common business rules yang dipakai dimanapun, mitra bisnis haruslah punya integritas dan terpercaya. Tanpa ada hal ini, meskipun poin pertama dan poin kedua cukup solid, alpanya poin ketiga ini, kongsi yang dibangun sangatlah “fragile”. Saya pribadi tidak menyarankan untuk berkongsi kalau mitra bisnis yang akan kita gandeng tidak mempunyai poin ini. Bisa-bisa kongsi bisnis yang dibangun tidak menghasilkan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan), malah akan menghasilkan simbiosis komensalisme (hanya mitra bisnis saja yang diuntungkan) artinya kita hanya “dipakai” sebagai batu loncatan bisnis semata. Atau malah kongsi yang terjadi adalah simbiosis parasitisme, mitra bisnis Anda akan “menggerogoti” Anda.

Akhirnya bagaimanapun membangun kongsi bisnis tetaplah merupakan sebuah pilihan. Untuk membangun ikatan kongsi yang langgeng dan saling menguntungkan adalah bak “memelihara keutuhan persahabatan”, harus saling bertenggang rasa dan mau berbagi saat senang (ketika profit membumbung) maupun ketika rasa sedih mendera (ketika rugi menggelayuti). Tanpa ada keinginan kuat pihak-pihak yang berkongsi, disarankan berbisnis sendiri saja karena berkongsi itu pada dasarnya siap “berbagi”. Jadilah kawanan singa ketika berkongsi berburu mangsanya, karena mereka siap berkongsi. Tetapi kalau tidak, jadilah seekor harimau yang berburu soliter, karena harimau memburu mangsa yang enggan “berbagi” mangsanya. So, life is a choice and a choice is yours.

Credit Photo : Jeff Bauche@flickr.com

Previous

Marketing Getok Tular dan Budaya Lisan

Next

Alat Takar itu Bernama KPI

6 Comments

  1. Nice article…

  2. @ Asepsaiba : Mas Asep Saiful….terima kasih berkenan mampir 🙂 ditunggu komentarnya……

  3. Saya termasuk yang suka untuk berkongsi Mas Donny…begitu banyak yang harus dipikirkan di dalam berbisnis dan apabila ada teman untuk berbagi lebih enteng. Dan Alhamdulillah selama ini semua bisnis saya lancar-lancar saja. Yang paling penting adalah ikuti kata hati kita dalam memilih teman bisnis..

    • @Imam Wijayanto : Terima kasih Mas Imam berkenan mampir, betul sekali memang dalam banyak hal yang harus “dipertimbangkan” dan “dilakukan”, kalo menggamit teman untuk berbisnis malah lebih baik, ya mengapa tidak? Tetapi perlu nih kapan-kapan sharing kiat kongsinya berbisnis, “listen to your heart” ya Mas 🙂 sukses Mas Imam

  4. sinta damayanti

    berkongsi… amat sangat dibutuhkan integritas kedua belah pihak yg tinggi… tanpa itu…. mending ga jadi deh…..

    menurut saya… jika memutuskan utk berkongsi dengan mitra bisnis… kenali lebih mendalam usaha kita…langkah2 kedepannya visi n misinya jelas lah… dan paling tidak mempunyai pengalaman dibidangnya dan harus juga mengenal visi dan misi mitra yg akan bergabung dgn perusahaan kita..

    ibarat kata baru seumur jagung kita berkecimpung di usaha tsb lalu memutuskan utk berkongsi… waddooohh .. kayaknya ngga layaklah… bisa2 malah…simbiosis parasitisme….

    dan yg paling terpenting punya rule yg jelas dan terarah pada visi n misi yg sejalan

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén