Berebut Tahta Raja Elektronik : Sony Vs Samsung

Berebut Tahta Raja Elektronik : Sony Vs Samsung Berebut Tahta Raja Elektronik : Sony Vs Samsung sony vs samsung

This is very valuable contribution to the international business literature. It will end up in as many corporate bedrooms as faculty seminars.” (komentar untuk buku ini dari : Thomas D.Casserly Professor Emeritus, Harvard Business School)

Berbicara tentang Sony tentunya saja tidak lepas mengobrolkan tentang legendarisnya “walkman” yang sempat mendunia di era 80an, mengajak orang-orang “bergeleng-geleng” kepala dan bersenandung sambil berjalan atau lari-lari (jogging). Besutan produk Sony lainnya tak kalah piawai, handy-cam canggih yang trend di era 90-an untuk “mengabadikan” momen-momen penting merupakan salah satu produk laku Sony, sehingga tidak perlu jadi wartawan untuk merekam momen-momen penting dalam hidup. Atau mengingatkan sebuah game Playstation, sebuah produk yang cukup jenial, yang lahir di tahun 2000, yang laris manis hingga keluar “jilid” ke-3 di tahun 2006, menyihir anak kecil hingga dewasa untuk betah “mempelototi” monitor TV berjam-jam lamanya. Karena produknya sangat inovatif, majalah Fortune tahun 1997 pernah menggelarinya “Perusahaan Paling Dikagumi di Dunia”. Top habiiiiisss!!!

Sementara bicara tentang Samsung katakanlah 10-15 tahun yang lalu, di Indonesia misalnya produk-produknya masih dianggap “warga kelas dua”, konsumen masih jarang meliriknya. Kala itu Samsung dikenal cuma jago di semi-konduktor khususnya di bisnis memory, DRAM (Dynamic Random Access Memory) merupakan produk “jogoan” dari samsung. Sony bahkan kala itu “belum mengganggap” Samsung sebagai pesaing serius. Akan tetapi sekarang, hampir semua orang tahu Samsung dan membeli produknya (Baca artikel : Kisah Mantan Follower Market dari Negeri Ginseng). Samsung adalah jawara penting di dunia di sektor TV LCD (Liquid Crystal Display) dan TV PDP (Plasma Display Panel).

Tahun 2003 merupakan titik balik, Samsung mulai “menyalip” kedigdayaan Sony. Kinerja Sony cenderung memburuk, tak ayal membuat Chairman Idei serta Presiden Ando bahkan terpaksa “mengundurkan diri” di tahun 2005. Di sisi lain CEO Samsung Jong-yong Yun, diberi apresiasi “meriah” karena menjadikan Samsung Electronics menjadi salah satu perusahaan berkinerja menguntungkan dalam industri elektronik. Dari titik inilah, sang penulis buku Sony Vs Samsung : The Inside Story of The Electronics Giants’ For Global Supremacy, Prof.Sea-Jin Chang mencoba mengulik serta melakukan serangkaian riset mendalam untuk menguak “fenomena yang sebenarnya terjadi” di dua perusahaan raksasa elektronik tersebut.

Dari serangkaian riset dan wawancara mendalam terhadap para pimpinan, insinyur baik di Sony maupun Samsung, Sean-Jin Chang menemukan fakta yang cukup menarik , salah satu faktor menyebabkan kinerja Sony sedikit “jeblok” adalah, Sony mengalami “stagnasi” dalam melahirkan produk-produk baru nan inovatif yang mengundang decak kagum para konsumennya seperti Walkman, Handy-cam, dan Playstation. Ditengarai stagnasi ini muncul, untuk melahirkan produk inovatif ini, digambarkan Chairman Idei sebagai budaya Digital Dream Kids (baca Chapter 3), mensyaratkan banyak sekali eksperimen, mahal harganya serta memakan waktu. Ketika inovasi gagal dilahirkan atau mandek, “prahara” bakalan menghampiri . Inilah yang dialami oleh Sony. Sony harus bisa keluar dari belitan “inefisiensi” di atas untuk tetap menghasilkan produk-produk inovatif yang selalu ditunggu-tunggu konsumennya.

Sementara Samsung Electronics, dibawah Kepemimpinan Lee, mengusung Digital Sashimi Shop yang mengedepankan “kecepatan” eksekusi merengsek maju. Organisasi Samsung yang cenderung “bergaya militeristik”, sangat pas dengan fenomena wajib militer di Korea Selatan. Kepatuhan terhadap pimpinan menyebabkan budaya Digital Sashimi Shop dapat tercapai. Tapi bukan berarti pendekatan yang dianut Samsung tidak ada kelemahannya. Pendekatan ini , menjadikan kreativitas dan pengembangan produk baru menjadi “mandul”, karena mengejar kecepatan semata. Dengan posisi Samsung sebagai salah satu jawara elektronik dunia, tidak ada produk yang bisa “ditiru” atau di-benchmark. Harus membuat “trend produk” sendiri, ini berarti penguatan Research dan Development yang inovatif merupakan sebuah keniscayaan bila Samsung tetap ingin melanggengkan sebagai salah satu jawara di dunia Elektronik dunia.

Sebuah buku menarik yang wajib dibaca, hasil data primer dari wawancara dengan para eksekutif dan para insinyur baik di Sony maupun di Samsung amatlah menarik diikuti. Kiprah manuver bisnis perusahaan elektronik kelas dunia yang dipaparkan, merupakan pembelajaran bisnis yang perlu dicermati. Apalagi untuk para senior eksekutif, yang perusahaannya menjadi market leader dan market challenger, sarat dengan “resep strategi bisnis” kelas dunia yang layak dipetik. Selamat membaca.

Previous

Peluang Bisnis Satu Motor per 2,2 Detik

Next

Ciputra dan “Inovatif Entrepreneur”

2 Comments

  1. Ya boleh juga masuk daftar antrian buku yang akan dibeli. Tadi saya ke Toga Mas Banyuwangi belum ada buku ini.

  2. @ Hangga : Mas Hangga, sudah terbit versi bahas Indonesianya, judulnya Sony Vs Samsung : Strategi Perang Memperebutkan Supremasi Global, terbitan Gramedia. Silahkan dibaca 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén