Berdamai Bersama Office Politics

Berdamai Bersama Office Politics Berdamai Bersama Office Politics get rid of annoying pompous james w bell

Don’t try to solve everything, just do something meaningful-this will be more sustainable” (Barack Obama, buku Audacity of Hope).

Beberapa saat lalu di sebuah pertemuan, seorang kawan bercerita tentang kawan kita yang menjadi tangan kanan seorang CEO konsultan termasyur di sebuah perusahaan konsultasi besar dan ternama di negeri ini, sebut saja Rico, “resigned” dari posisinya. Sebuah berita yang mengejutkan, karena kami tidak menyangkanya, karena posisinya sebagai tangan kanan sekaligus think-tank konsultan tersebut, kok bisa “disingkirkan” juga. Ketika saya tanya kepada kawan tadi apa sebab utamanya. “Ya biasalah….office politics”, katanya sambil menaikkan alis matanya, ”Dia sekarang sedang membangun sebuah perusahaan konsultan sendiri bersama teman-temannya”, paparnya lebih lanjut.

Tentunya Anda semua paham dua kata tadi. Dua kalimat berbunyi office politics memang 2 buah kata yang seringkali dimaknai negatif. Walaupun sebenar betulnya, makna office politics atau sering disebut “politik kantor” merupakan makna yang netral. Melongok arti politics itu adalah sebuah mekanisme kelompok atau orang tertentu untuk mencapai tujuannya. Selama masih dilakukan dalam koridor rel rules of the games yang disepakati tentunya tidak masalah, tetapi karena seringkali dalam prakteknya disusupi aksi-aksi telikung disana-sini menjadikan kata-kata jadi beraksen nyinyir.

Tetapi selama mind-set kita berbeda, perbedaan dimanapun termasuk di kantor tidak dapat dihindarkan. Saya pernah berkantor di di sebuah perusahaan yang diantara salah dua pejabat seniornya terlibat “gesekan” yang cukup akut. Secara fisik, mereka kelihatan saling bermanis muka, tetapi sebenarnya menyimpan perbedaan yang teramat tajam. Celakanya, mereka yang berseteru tadi juga mengajak para junior-junior seperti saya kala itu di kantor. Sehingga bisa ditebak terjadi blok-blok tandingan yang saling berhadapan satu dengan lainnya. Ketika sebuah tempat kerja disesaki oleh office politics yang tidak sehat, bisa dipastikan sebagian energi akan terserap disana. Pada titik itu, pembahasan seputar kinerja, target bersama, tanggung jawab bersama yang lebih utama dalam kacamata professional kerja akan sulit muncul di permukaan atau setidaknya tereduksi. Apakah hal ini sehat?

Trus, kalau kebetulan kita terjebak di sebuah kantor yang nyebelin dengan aroma office politics nan kental, apa yang harus kita lakukan untuk “berdamai” dengannya? Ada beberapa tips renyah nan ringan barangkali cocok untuk dilakukan.

Pertama, Punya Pilihan. dalam kondisi politik kantor yang kental dan hiruk pikuk, pastikan Anda sudah mempunyai pilihan. Ini penting sebelum Anda terjerembab tarik menarik yang tidak ada juntrungnya. Biasanya dalam setiap kebijakan yang muncul, sesempurna apapun kebijakan tersebut akan tetap melahirkan “ketidakpuasan”. Ujung-ujungnya bakal ada reaksi ngotot atau melawan (fight), meskipun diam-diam ataupun sebaliknya ada reaksi meninggalkan arena (flight) terhadap kebijakan tersebut. Sebelum Anda didera kebingungan, pastikan you have a choice.

Kedua, Berfokus pada rentang kendali yang dimiliki. Terkadang ada kebijakan baru dari manajemen yang lahir berefek kurang baik pada “posisi” Anda. Biasanya untuk “menetralkan” perasaan itu, Anda mengumpat dan curhat perasaan itu dengan kolega kantor di kantin secara diam-diam dengan penuh kedongkolan dan kemarahan. Ini percuma dan menghabiskan energy. Alih-alih mengumpat dan menyalahkan kondisi yang sudah ditetapkan manajemen yang jelas-jelas tidak bisa kita rubah, lebih baik kita menjalani keputusan dengan lega hati dan penuh keikhlasan. Lapang dada. Tidak mudah, tapi itu bakal jauh lebih meringankan ketimbang didera perasaan merasa “dikorbankan” terus-menerus gara-gara kebijakan yang kurang menguntungkan kita, bukan?

Ketiga, Menjaga Jarak. Seringkali di kantor, politik kantor menjadikan dua buah kubu berhadap-hadapan secara diam-diam atau bahkan terang-terangan. Berdasar pengalaman yang saya alami, ketimbang menceburkan di salah satu pihak yang terkadang malah diajak “berpolitik ria” kesana-sini yang seringkali melelahkan. Lebih baik, menjaga jarak diantara dua kubu tadi lebih “menguntungakan”. Disamping tingkat penerimaan (acceptance) di kedua kubu relatif baik, energi kita bisa difokuskan kepada urusan pekerjaan dan bisnis yang lebih krusial dan butuh konsentrasi akan lebih maksimal.

Akhirnya, politik kantor (office politics) merupakan hal lumrah yang mau tidak mau harus dihadapi. Bijak menghadapi serangkaian aksi-aksi politik kantor yang kurang sehat itulah yang perlu diwaspadai untuk dihindari. Selamat ber-office politics di kantor 🙂

Credit Photo : James W Bell@flickr.com

Previous

Mandeknya Penerus Bisnis Keluarga

Next

Panggung Digitalpreneur Sendiri

2 Comments

  1. Rinaldi

    Ha ha ha ha …saya justru suka kalau ada office politic, karena dalam kondisi seperti ini, kemampuan individu setiap orang akan kelihatan.

    Kadang kala nya, puncak pimpinan dari perusahaan/department/divisi tersebut sengaja menumbuhkan kondisi ini, tujuan adalah baik, akan terjadi kompetisi antar individu di dalam perusahaan itu.

    Walaupun ada juga pimpinan yang sengaja mengkondisikan seperti itu unt bisa mengontrol bawahan nya dan menjaga posisi nya dia sendiri, dan apabila office politic sudah parah dan bernuansa negatif, dia bisa ambil alih semua, seolah dia mempunyai peranan dominan dan jadi don ( penguasa ) di perusahaan/bagian itu.

    Kenapa saya katakan saya justru senang apabila ada office politic justru disitulah seni nya akan muncul. How we can survive in that condition and become the winner.

    Cara nya adalah :
    – Melakukan kerjaan/ tanggung jawab semaksimal mungkin dan berbeda dengan yang lain.
    – Tidak berpihak di pihak manapun, seperti yag di sampaikan oleh mas Donny di atas. But berteman dan tetap menjaga komunikasi dengan siapa pun, atau malah termasuk dengan pimpinan tertinggi perusahaan.
    – Be smart, jangan keluarkan komen apa pun , tentang siapa pun. Kalau ada yang ajak nggosip atau membicarakan pihak lain, dengar tapi diam saja. Cara ini akan menunjukkan kepada siapa pun posisi kita, netral.

    Kalau kita bisa menunjukan prestasi kerja yang terbaik dan berbeda dengan yang lain, ini akan menarik perhatian siapa pun juga termasuk pimpinan tertinggi perusahaan.

    Jangan takut dengan office politic, tapi juga jangan buat office politic, karena tidak ada guna nya.

    Kalau anda bisa survive di office politic di kantor anda, mungkin anda sudah siap unt menjadi memegang posisi lebih tinggi, dan malah bisa mulai berpikir unt pindah jalur, jadi politikus ulung.

    Salam
    Rinaldi

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén