Belajar dari “Sarari-Man” ala Jepang

Belajar dari “Sarari-Man” ala Jepang Belajar dari “Sarari-Man” ala Jepang salary man jrvirtue1

Beberapa hari lalu saya membaca artikel menarik di The Japan Times yang mengisahkan tentang seorang CEO perusahaan furniture Manone Inc. yang bernama Keisuke Tanaka. Dia menceritakan di sakunya selalu ada dua meishi (kartu nama). Lho untuk apa? Kartu nama yang satu posisinya sebagai President Director Manone, yang satunya masih tetap memakai namanya, tetapi jabatannya sebagai salesman, atau di Jepang dikenal dan sering dilafalkan sebagai “sarari-man” (dari serapan bahasa Inggris, salary man), karena dalam lidah Jepang, aksara “l” acapkali dibaca “r”. Saya tersenyum simpul, ”Jepang banget”, pikir saya.

Di Jepang, profesi sebagai sarari-man merupakan profesi jamak dijumpai. Biasanya mereka bisa dikenali dengan dress-code yang sangat khas, stelan kemeja putih dengan jas dan celana hitam. Tugasnya sekilas gampang, keluyuran dan bertandang untuk bertemu langsung ke konsumen atau pelanggan secara langsung, baik per individu maupun tingkat korporat. Tapi sungguh, suatu pekerjaan yang menuntut kerja keras dan komunikasi yang prima. Karena tugasnya sesungguhnya tidak sekedar menggelembungkan raihan omset penjualan semata, para sarari-man juga didapuk untuk “memahami keinginan sesungguhnya” dari pelanggan atau calon pelanggan. Tak ayal lagi, untuk merengkuh tujuan kerja, sampai larut malam dan pulang “subuh” terkadang dilakoni dan dipandang hal “lumrah” dalam kultur masyarakat Jepang. Terkadang, agenda “ramah tamah” dengan para pelanggan terkadang digelar di restoran, café, resto yang biasanya dilakukan after office hour. Tak heran, banyak restoran, café dan resto di Jepang yang buka hingga larut malam untuk mengakomodir para sarari-man, terutama di kota-kota besar di Jepang. Banyak restoran disana yang “dihidupi” oleh para sarari-man tadi.

Menyambung pembicaraan dengan Bapak Keisuke Tanaka, beliau menyatakan alasan mempunyai kartu nama dua supaya saat bertukaran kartu nama dengan kolega bisnis, beliau tetap mempunyai kartu nama yang berposisi sebagai salesman ketika bertemu dengan pelanggan. Luar biasa seorang CEO saja masih menyempatkan diri langsung menyapa konsumen dengan “menyaru” sebagai sarari-man. Ketika ditanya lebih lanjut oleh The Japan Times tentang motif kartu namanya sebagai sarari-man, Tanaka-san menjawab,”Terkadang, Para Pelanggan mengajari saya dengan cara yang kreatif dalam menggunakan sebuah barang dimana saya tidak pernah memikirkannya sampai kearah itu,’’ jelasnya. “ Saya sangat menyukainya ketika Para Pelanggan mengagetkan aku dengan pemikirannya tersebut”, paparnya lebih lanjut. Amazing explanation!!

Penjelasan Keisuke Tanaka-san mengingatkan sebuah buku lama yang saya baca besutan Professor dari Universitas Hitotsubashi, Ikujiro Nonaka dan J. Johansson berjudul Relentless : The Japanese Way of Marketing, Di salah satu kisah di buku itu menceritakan seorang sarari-man dari perusahaan Kao yang mengusulkan pembuatan diapers/popok bayi sekali pakai yang diilhami dari perbincangan dengan seorang konsumen yang kebetulan seorang ibu yang cukup sibuk dan repot gonta-ganti popok bayi (di Jepang jarang ada keluarga yang mempunyai pramuwisma, jadi sangat beruntunglah para Ibu di Negara kita..he..he..he..). Dari laporan awal sarari-man tadi diteruskan ke pusat. Sehingga akhirnya munculah produk bernama diapers, yang bisa dipakai dan dibuang. Dan produk itu “meledak” kala itu.

Ada sebuah benang merah yang klop antara alasan Tanaka-san di atas menyaru sebagai sarari-man dengan buku yang ditorehkan Ikujiro Nonaka, bahwa “kearifan bisnis” dari seorang pelanggan terkadang jitu dan tidak disangka-sangka idenya. Sebagai pengguna akhir, advis dari pelanggan memang manjur dan jujur karena mereka adalah end-user. Bertemu dengan pelanggan memang bukan semata-mata mengutak-utik dan mendongkrak angka-angka dan statistik penjualan semata, tetapi juga menjumput insight yang sangat bernilai dari pelanggan dari hati ke hati.

Oleh karenanya saya cukup terkejut, ketika seseorang anak muda dari tanah air yang baru lulus kuliah bercerita dengan bangga “menolak” sebuah tawaran pekerjaan. “Kemarin saya menolak sebuah tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan”, ujarnya dengan nada bangga. “Lho, kenapa ? Kan kesempatan, jadi bisa punya pengalaman”, selidik saya ingin tahu. “Habis, masa ditawari jabatan sebagai marketing staff, aku males ‘jualan’, berdebu dan panas”, jawabnya. “Mending kerja di kantoran….adem,” paparnya lebih lanjut. Walah “mengagetkan” sekali jawabannya….. kalau semua anak muda di negeri ini berpikiran seperti itu, sedangkan seorang CEO yang sudah berumur saja di Jepang masih menyapa pelanggannya langsung di lapangan………it seems something wrong, isn’t it?

Gengsi yang menggelayuti……atau karena benar benar males kena panas dan berdebu……ataukah mental spiritnya yang memble? Apapun jawabannya….para sarari-man di Jepang semakin paham konsumennya dan karenanya semakin laku laju produknya. So, bisakah kita menyainginya ??

Ikut Belangsungkawa atas meninggalnya seseorang yang memberikan sumbangsih besar untuk majunya “manajemen” di Indonesia, Bapak Michael D.Ruslim, Presiden Direktur PT.Astra International Tbk, Semoga amal ibadah almarhum diterima disisiNYA.

Credit Photo :jrvirtue@flickr.com

Previous

Sang Pemimpi : Bangkitnya Bisnis Kreatif di Indonesia ?

Next

Lowongan Pekerjaan itu Bernama Entrepreneur

8 Comments

  1. perlu banyak belajar lagi agar saya bisa bermental seperti Keisuke Tanaka walupun sudah berusia tetapi masih semangat untuk mendapatkan hasil yang di inginkan.

  2. Wow.. sangat patut dicontoh, mas Donny. Dan ini sangat simple dan actionable sekali, hanya membuat 2 kartu nama.

    Memang terkadang orang Indonesia terlalu dibutakan oleh “gengsi”. Akses ke pertambahan pengetahuan menjadi terhambat. Padahal sumber pendidikan yang paling besar berdasarkan pengalaman saya adalah “flipping perspective”. Merubah persepsi sering kali menjadi awal dari mendapatkan insight yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

    Kalau selalu ongkang-ongkang kaki di balik meja, kapan mau mengerti pelanggan?

    • @Pandu Truhandito : Pilihan kata yang pas dan menarik, “flipping perspective”……anyway benar adanya jangan sampai “gengsi” menghambat masuknya input penting dalam hidup kita….ulasan menarik Mas Pandu

  3. OK Brow… mantabb nich artikelnya, itulah kelemahan kebanyakan orang kita GENGSI. Kadang ada pepatah konyol ‘biar miskin yg penting belagu’

  4. yusi adhi n

    simpel, tapi jelas itu utk tulisan2 mas Donny…bravo;)
    jujur aq terhenyak baca artikel ini, ternyata kita emang harus belajar menghilangkan gengsi sekecil apapun…terlebih belajar dari siapapun…apa yg baik sudah sepantasnya diserap demi kebaikan…bukankah dlm agama kita juga diajari sikap zuhud…salut buat Mr Keisuke Tanaka…

    • @Yusi: Terima atas masukannya Ibu Direktur Yusi, Wah kalo semakin banyak yang sharing juga kalangan pelaku usaha langsung….lebih bagus karena lebih membumi….sukses untuk bisnis Anda….dan ditunggu sharing pengalaman bisnis-nya di Blog ini 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén