Bekerja : Menyelesaikan Keribetan Pelanggan

Bekerja : Menyelesaikan Keribetan Pelanggan Bekerja : Menyelesaikan Keribetan Pelanggan complexity

Di awal magang kerja di Jepang , Bos saya di Jepang dulu pernah menasehati saya kalau bekerja itu adalah menyelesaikan “keribetan” yang dipikul orang lain, khususnya pelanggan kita. Walaupun saya menggangguk mengiyakan dengan jawaban ala Jepang “Hai, wakarimashita”, (iya, saya mengerti-red). Tetapi sesungguhnya kala itu saya belum memahami benar arti kata-kata tersebut. Makna filosofis Bos Jepang saya tadi adalah, semakin tertekan kita berusaha menyelesaikan keribetan yang mendera pelanggan kita, semakin bagus dan semakin banyak pengalaman kita memahami pelanggan. Kurang lebih itu filosofi obrolan di atas.

Tetapi setelah memperhatikan dan melihat dengan seksama kehidupan dan pola bisnis orang Jepang kala itu, saya menjadi paham makna itu. Menjulangnya prestasi ekonomi dan bisnis Jepang di kancah internasional tidak sekedar karena dulunya menjual barang yang lebih murah dari produk barat, tetapi salah satunya karena keberhasilan menerapkan nasihat “menyelesaikan keribetan” yang menggelayuti pelanggan kita itu. Bagi sebagian besar kita barangkali merepotkan untuk menyelesaikan keribetan orang lain (pelanggan). Barangkali keribetan pribadi saja terkadang tidak bisa terselesaikan. Sehingga “membiasakan” diri didera kesetresan (working under pressure) adalah makanan sehari-hari di sana.

Sehingga tidak heran, gaya hidup spartan sejak kecil sudah diterapkan di sana. Demikian pula dengan sense of achievement. Melihat anak-anak bersekolah disana dengan tentengan tas yang begitu banyak menandakan atmosfer itu sudah dibiasakan sejak kecil. Dengan suasana persaingan yang begitu ketat itu ditabuh menjadi sebuah tradisi. Sebuah pendekatan yang mulai diamini dan ditiru di Korea Selatan, China, Singapura dengan level yang berbeda.

Sementara di negeri ini, perilaku pendidikan masih tampak lebih longgar dan santai. Saking santainya, untuk sekolah saja masih sempat tawuran, menandakan iklim terlalu cair dan rileks masih menghinggapi. Makanya seorang kawan pernah berseloroh, orang-orang di negeri ini saking longgarnya, keribetannya masih minta diselesaikan oleh “orang lain”. Alhasil “keribetan” yang sebenarnya juga punya “makna bisnis”, menjadi ladang bisnis saudara-saudara kita yang punya adagium “bekerja adalah untuk menyelesaikan pekerjaan orang lain”.

Terbuai dengan servis orang lain di negeri ini celakanya agak sedikit kebablasan. Hidup yang nyaris alpa “under pressure” ini berarti apa-apa kalau kurang, solusinya tanpa beban : import atau membeli. Kurang gula ya impor, paceklik beras solusinya impor, sehingga industri mobilnya pun jadi tidak pernah berkembang maksimal karena dengan “semua keribetan” sudah diserahkan pada produsen alias impor. Kesannya kita menjauhi bermesraan dengan “keribetan”, yang sesungguhnya kalau dilakoni, walaupun lebih komplek dan ribet, ada selisih ekonomis (keuntungan) di sana. Kita maunya duduk manis saja, maunya minta keribetan akan diselesaikan oleh orang lain. Karena duduk manis itulah, kita jadi tidak “mendapat apa-apa”. Margin yang seharusnya kita sesap, dinikmati oleh orang yang mau melakoni “keribetan” tadi yang terkadang mengandung unsur under pressure yang tinggi. Haruskah atmosfer seperti dibiarkan menular?

Kalau kondisinya seperti ini, agaknya salah satu jalannya adalah “menciptakan” dan “membiasakan kondisi under pressure mulai menjamah sistem pendidikan di tanah air, kalau perlu dimulai dari pendidikan terendah perlu . Menciptakan atmosfer yang penuh persaingan yang mau menerjuni segala rintangan keribetan nan terjal harus mulai diintrodusir. Karena suasana seperti inilah yang akan mereka hadapi dalam pekerjaan sesungguhnya nantinya.

Tekanan-tekanan selama menjalani pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi inilah yang akan membentuk karakter pantang menyerah akan tersemai. Karena sejatinya, suasana sesungguhnya seperti itulah dalam persaingan bisnis itu akan mereka hadapi dalam mengemban pekerjaan yang dibebankan. Sehingga perasaan manja dan duduk manis yang terkikis kalau pola pendidikan ini diterapkan sejak dini. Stop memberikan “keribetan” kepada orang lain, mari kita selesaikan “keribetan” diri kita sendiri. Juga Stop juga kebiasaan mengimpor produk yang bisa kita buat sendiri, karena terkadang keribetan itu perlu dihadapi bukan dijauhi serta diserahkan kepada orang lain.

Credit Photo : www.dadwagon.com

Previous

Melirik Jepang Membangun Industri Kecil & Menengah-nya

Next

Trik Perusahaan China di Afrika

2 Comments

  1. Res

    Dear Donny…
    Apa khabar ? Good Posting as always.
    Postinganmu bener2 nambah wawasan dan selalu merefresh memory saya akan “Jepang dalam sehari harinya ” .
    Kemarin di kantin kantor, sempet diskusi dengan teman sekantor mengenai “selalu ribet ” nya kehidupan sehari hari kita di Indonesia ini. Kita orang Indonesia dari yang masa bodo dengan kenyamanan umum, nggak mau ngantri sampai pelayanan pemerintah yang selalu bikin stress , kita berkesimpulan bahwa “pendidikan dasar” itu penting banget bagaimana menumbuhkan mental, “keteraturan” , “tidak membuat orang lain sulit / ribet”, dsb dengan tentunya ajaran agama sebagai pondasianya. Kayaknya gaya hidup spartan ( walaupun tidak sepenuhnya setuju juga sich ) harus diaplikasikan dari pendidikan dasar negeri kita kali ya ? Tapi untuk memulai sesuatu yang big, kadang ada kalanya kita berpikir small , yang menurut saya pribadi dimulai dari keluarga kecil. Mmmhhh kyouiku mama harus sudah mulai menancapkan taringnya sepertinya hahahahahahaha.

    • @Res : Restu-san, genki desu yo 🙂 thanks for stop by….:) Betul sekali pendidikan dari keluarga adalah pondasi garda depan untuk itu. Ngomong-ngomong aku juga mempraktekkan “kyoiku Papa” di rumah hehehehehehe 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén