Barkas : Ketika Barang Seken Di-bisniskan

Barkas : Ketika Barang Seken Di-bisniskan Barkas : Ketika Barang Seken Di-bisniskan barkas

Memulai bisnis tidaklah mesti dimulai dengan menggelar sederetan polesan kemewahan atau celetukan “wooow…Keren !!!!!” yang disiulkan banyak orang. Itu semua tidak menjamin kelanggengan dalam bisnis. Tetapi esensi sesungguhnya dimulai dari kelihaian melihat celah kesempatan, sesempit apapun kesempatan tersebut untuk di-“bisniskan”. Bisa jadi barang yang akan dibisniskan sdah tidak terpakai sehingga menjadi jadul dan terkesan usang untuk sang pemilik. Tetapi barangkali menjadi barang tersebut yang sangat diperlukan bagi orang lain yang membutuhkan barang tersebut.

Ketika menjadi mahasiswa “pas-pasan” di Jepang, saya sangat berterima kasih kepada toko-toko disana yang “ramah” terhadap saya, yakni meriahnya toko second-hand shop yang muncul di Jepang. Mulai dari sederetan buku-buku bekas yang dijual toko buku bernama book-off, sampai baju-baju laik pakai sesuai 4 musim dan barang barang rumah tangga disana yang dijual di toko Hard-Off. Bahkan ada yang menjual barang-barang aksesori mobil yang terkadang masih kinclong yang dijual di Garage-Off.

Toko itu semua membantu saya dan keluarga saya, karena disamping harganya sangat bersahabat buat kami, walaupun second hand. Sepertinya tradisi masyarakat Jepang yang teliti dalam ngopeni (merawat) terhadap barang menyebabkan kami terkadang masih bisa memanfaatkan barang-barang tersebut. Terkadang, sesekali kita bisa “pamer” kepada tetangga, bahwa kita bisa mendapatkan barang yang cukup bagus itu dengan harga miring. Kami sangat “menikmati”, ketika para tetangga mahasiswa melongo ketika kita bisa membeli sebuah barang yang sepertinya mahal kalau kondisi baru, bisa kita dapat hanya dalam beberapa ratus yen….dasar mahasiswa..heheheheh. Ya….sebuah perburuan barang bekas yang terkadang cukup untuk mengurangi beban stress kuliah karena tugas yang bejibun.

Sewaktu saya berputar-putar kota Jogja, ternyata ada sebuah toko dan sudah mempunyai beberapa cabang yang meniru bisnis model tersebut. Namanya tokonya Barkas (singkatan dari barang bekas). Ketika saya masuk ke dalam toko tersebut ada suasana yang menyamai suasana toko senada di Jepang, yang sedikit membedakannya adalah, kebanyakan barang yang dijual didominasi barang-barang milik mahasiswa-mahasiswi yang notabene sebagai penduduk “sementara” kota Jogja. Tak ayal, properti seperti tempat tidur, almari buku yang lucu, gitar listrik maupun akustik, serta perabot-perabot yang dulunya milik khas para pelajar, “numpuk” di situ.

Agaknya toko barkas yang ada di Jogja, memahami betul kebiasaan para mahasiswa mahasiswi Jogja yang terkenal dinamis dan suka tantangan, tetapi tetap mengedepankan kesederhanaan dan sadar betul arti “azas manfaat”. Mahasiswa yang sudah menyelesaikan studinya biasanya malas membawa serta semua barang yang ada di kamar kost atau rumah kontrakan mereka, alhasil ketimbang repot “dijuallah” barang tersebut ke Barkas. Di lain sisi, para mahasiswa baru yang datang, tentunya menyadari betul untuk menekan ongkos, tidak semua barang harus baru yang lebih mahal. Alhasil banyaknya toko-toko barkas yang bermunculan di kota-kota Jogja menandakan bahwa model bisnis yang mempertemukan penjual-pembeli barang-barang seken ternyata, cukup menguntungkan.

Konsepnya bisnisnya pun sederhana, tidak njlimet. Rata-rata toko barkas yang ada menerapkan sistem bagi hasil. Artinya barang yang di-display di sana kalau laku terjual, maka para penjual yang menitipkan barang di sana baru memperoleh pembayarannya, biasanya dipotong 20-30% dari harga jual. Ternyata dengan konsep sederhana tersebut, toh toko-toko Barkas yang marak di kota pelajar itu tidak pernah didera kesepian pengunjung. Selalu ada pembeli yang menyambangi.

Maraknya short course yang diadakan di kota itu, menjamurnya program-program pendidikan diploma satu tahun yang langsung kerja, membeli barang-barang eks mahasiswa yang masih laik dipakai merupakan strategi ekonomi yang jitu bagi para mahasiswa baru atau peserta kursus singkat. Beberapa barang yang masih bagus dan kinclong terkadang masih bisa laku sekitar 60-75 % dari harga baru. Barang dengan kualitas biasa-biasa, bisa terjual di kisaran 30-40% dari harga baru.

Menurut saya kedepannya, bisnis ini tetaplah menarik untuk digelindingkan. Disamping mengurangi tumpukan sampah yang tidak perlu, ada azas manfaat itu merupakan hal utama. Sehingga ada sebuah perputaran ekonomi yang menguntungkan dan bisa eksis tanpa harus menghadirkan ekonomi biaya tinggi (high cost). Tetapi sepertinya pengelompokkan barkas yang dipilah-pilah lebih spesifik sesuai dengan pengelompokkan barang tertentu, itu lebih akan menguntungkan di masa mendatang. Karena akan menjaring pembeli yang juga lebih spesifik. Karena kondisi barkas yang sekarang ada, klasifikasi barangnya masih tumpang-tindih. Semua barang tumpah ruah disitu.

Coba cek di kamar gudang Anda, adakah barang masih laik dipakai tetapi Anda sudah tidak memerlukannya lagi ? Ada baiknya untuk dihibahkan atau dijual ke toko mirip barkas yang ada di sekitar Anda. Agar azas manfaat dalam bisnis bisa terjadi. Atau malah berencana membuka toko barkas dengan barang yang lebih spesifik 🙂 Selamat mencoba !

Credit Photo : cemaragunung.blogspot.com

Previous

Menjitak Zona Kenyamanan Diri

Next

Gamangshite Kudasai !

3 Comments

  1. konsep ini sudah dimulai di Bandung sejak sekitar lebih dari 10 tahun yg lalu. dengan nama BaBe (Barang Bekas). konsepnya persis sama dengan bagi hasil dari si penitip terhadap pengelola Babe. bisnisnya meningkat pesat hingga terdapat beberapa cabang Babe di Bandung. bahkan sampai ada cabang yang di sebelah hotel, di sebelah mall, dan di lokasi2 strategis lainnya.
    hanya saja, setelah kira2 5 tahun berjalan bisnis ini jadi kurang menarik karena banyak barang2 baru (bukan bekas) yang dijual disana. produsen lebih memilih menitipkan barangnya disana karena murah bagi hasilnya dibanding mereka harus menyewa toko di Mall atau buka toko sendiri. sehingga BaBe menjadi tidak unik lagi. sekarang menjadi agak menurun dan beberapa cabang ditutup.
    mempaertahankan originalitas ide, dan tidak tergoda oleh keuntungan semata adalah konsep lain dari bisnis yang juga penting untuk keberlangsungan usaha.
    salam bisnis dari orang yg bukan pebisnis..hehe

    • @Radiprima : Sebuah masukan menarik, jadi memasukkan barang baru bukannya tambah pelanggan malah banyak cabangnya tutup ya ? Tetap konsisten di jalur bisnis yang dilakoni memang penting….terima kasih bersedia mampir di Blog Manuver Bisnis 🙂

  2. elhasan

    sebenarnya gua udah lamaaa banget pingin miliki gerai barkas juga. tetapi untuk memulainya masih kesulitan dengan stok barangnya, menurut agan idealnya untuk barkas itu volume barangnya seberapa?

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén