Bank Pro Bisnis 2012

Bank Pro Bisnis 2012 Bank Pro Bisnis 2012 bank loanFungsi Bank bisa beragam manfaatnya. Mulai dari menyimpan uang sampai tempat untuk berharap mendapatkan “bunga” dari penyimpanan itu. Kalau mau merunut secara jernih manfaat tersebut, bisa jadi kalau aroma manfaat untuk bisa menabung dan seterusnya, sesungguhnya hanya merupakan manfaat “individual” yang sangat person per person. Artinya hanya individu tertentu saja yang bisa mencecap serta mereguk kenikmatan dengan eksistensi bank itu. Lalu manfaat Bank buat masyarakat secara luas?

Barangkali memang akan debatable apapun jawabannya. Tergantung individu mana yang bisa memanfaatkan hal itu. Kalau dari kacamata saya pribadi, sebuah bank memiliki makna sosial strategis manakala usaha penghimpun uang dari masyarakat tadi akan tersalur kepada entitas-entitas bisnis yang menggunakan “segenggam uang pinjaman banknya” tersebut sehingga bisa digunakan untuk memperbesar usahanya sehingga ada manfaat dari pola produksi atau pola jasa yang tercipta dengan skala lebih luas dikarenakannya.

Jadi kalau sebuah bank hanya bertindak sebagai “pengumpul uang” semata, atau uangnya hanya disalurkan lebih untuk memuaskan dahaga nafsu nafsi konsumsi belaka, berarti menurut saya ada fungsi Bank utama yang hilang. Untuk kasus Indonesia, yang masih banyak masyarakat yang belum “bankable” ini, kalau jumlah pinjaman yang disalurkan untuk memperbesar pundi-pundi korporasi usaha, terutama usaha kecil sehingga pinjaman yang tersalur tadi mampu “menghidupkan” banyak orang yang bisa ikut hidup karena terkait hal itu. Ini berarti, bank berhasil memekarkan geliat rona bisnis, bukan sekedar juru kasir penghitung uang masuk dari penabung.

Kebetulan Business Digest dan majalah SWA mencoba melakukan sigi untuk melihat lebih lanjut (meranking) bank-bank di Indonesia yang “rajin” memberi  kredit usaha untuk korporasi (corporate lending) tahun 2012 adalah :

  1. Bank Mandiri
  2. BCA
  3. BRI
  4. Bank Danamon
  5. BNI

Di blog Manuver Bisnis, kali tidak akan membincangkan satu persatu manuver bisnis para bank pro bisnis ini menyalurkan pinjaman untuk memekarkan insan-insan bisnis khususnya usaha kecilnya. Tapi yang perlu ditekankan disini adalah ketepatan dan kecepatan dalam memberi pinjaman untuk sebuah usaha adalah merupakan prioritas penting. Isu menarik yang perlu dicari jalan keluar (breakthrough) dalam penyaluran kredit untuk tingkat korporat adalah :

Pertama, bagaimana bank bisa mendidik para stafnya untuk bisa peka dan mampu mengendus dengan cepat korporat macam apa yang perlu “dibantu” agar bisa segera mekar? Di titik ini, saya melihat pengucuran kredit masih bertumpu pada aspek bisnis yang sudah berjalan dan masih “terlampau” bertumpu pada  agunan yang dipunyai. Sebenarnya tidaklah salah kehati-hatian bank akan hal ini, untuk mereduksi potensi kerugian dalam hal ini. Akan tetapi kalau semua aspek penyaluran kredit semuanya harus seperti itu, akan banyak bisnis yang berpotensi bagus tetapi tidak mempunyai agunan yang cukup dan pengalaman usaha serta aspek legalitas dengan serta merta dicoret dari daftar perusahaan yang akan diberi pinjaman untuk perluasan usaha, saya pikir kurang bijak. Agaknya perlu dicarikan “parameter lain” yang tidak terlampau kaku sehingga tetap ada pinjaman yang bisa mengucur untuk bisnis yang berpotensi bagus tetapi tidak memenuhi syarat di atas. Terobosan bantuan usaha untuk wirausaha muda mandiri yang dicanangkan Bank Mandiri merupakan salah satu contoh terobosan untuk hal ini.

Kedua, Bank disamping harus lihai menguncurkan dana kepada para korporat-korporat yang membutuhkan pendanaan untuk perluasan usaha, yang tidak kalah penting para bankers untuk juga bervisi bisnis. Artinya beberapa usaha-usaha kecil seringkali bantuan yang dibutuhkan tidak semata “uang” tetapi juga business empowerment.  Artinya, ketika para bankers datang menawarkan pinjaman harus pula dilengkapi dengan kemampuan untuk memberikan advis-advis bisnis yang bertujuan untuk menggelindingkan bisnis itu. Ini khususnya dibutuhkan untuk bisnis skala kecil yang akan berpindah menjadi skala menengah. Dimana kemampuan menyewa konsultan yang handal untuk hal itu kemampuan finansial dan aksesnya terbatas. Jadi pada titik ini para bankers yang datang sedikit banyak harus bisa menggantikan peran sebagai “konsultan bisnis” untuk kliennya. Kalau kapasitas belum bisa untuk itu, tidak ada salahnya pihak bank meng-hire para konsultan berpengalaman untuk membantu. Ini pasti sangat bermanfaat pula untuk “mengamankan” pinjaman yang digelontorkan dari derita kerugian.

Kalau kedua isu di atas bisa diatasi dan dilakukan,  akan lebih banyak yang dana yang diparkir dan didiamkan begitu saja bisa tersalurkan dan menjadi kemashalatan orang banyak. Saatnya bank untuk berfungsi tidak sekedar memarkir dana, tetapi juga mampu mengalirkan dana untuk mekarnya bisnis yang menyejahterakan entitas sosialnya.

Credit Photo : www.jeffreymark.typepad.com

Previous

Menjumput Bisnis Convenience Store

Next

Whistle Blower dan Integritas Bisnis

2 Comments

  1. Ohayou Mas Donny,

    ke 5 Bank diatas kan assetnya memang terbesar di Indonesia, otomatis ya Loan Deposit Rasionya juga terbesar.
    Secara umum Bank di Indonesia ini masih terhitung bank tradisional dimana penghasilannya mayoritas bersumber dari lending, tidak sama dengan bank di LN yang sudah mengandalkan fee base Income. Jadi kalo pernyataan bahwa bank di Indonesia masih rigid dalam penyaluran kredit, saya pikir tidak juga. Darimana mereka akan membayar bunga deposan kalo mereka membatasi penyaluran kreditnya?
    Secara umum perbankan sekarang sudah sangat welcome dengan yang namanya MSME, makanya hampir semua bank mempunyai unit micro banking yang khusus menangani MSME. Menyalurkan kredit dengan menyandarkan colateral harus berupa aset tidak bergerak, juga sudah tidak jaman soalnya jaminan dapat berupa usaha yang ada, persediaan, piutang, PO dll. Makanya pemerintah memberikan skim kredit KUR, dimana penjaminan minimal yang dapat diberikan cukup 20% saja, sisanya dijamin pemerintah. Malahan untuk KUR mikro <20 Jt, ada beberapa Bank yang tidak meminta penyertaan jaminan, selama usaha prospektif dan menguntungkan.
    Nah agar calon debitur dapat dinilai bagus oleh bank, cara terbaik adalah berlatihlah dengan meminjam kredit dibank dengan nilai kecil terlebih dahulu. Manfaatkan saja skim kur mikro, dengan bunga 20% effective. Selanjutnya bila lancar dalam mengangsur, akan membuat track record sebagai debitur lancar dapat diketahui oleh berbagai bank karena telah terecord pada Sistim Informasi Debitur Bank Indonesia yang dapat diakses oleh setiap insan perbankan. Tahap selanjutnya biasanya tanpa diminta, biasanya bank akan memaksa debitur untuk menambah hutangnya lagi hehe…
    Percayalah Mas Donny, kalau bankir itu di daerah sudah seperti konsultan. Bankir itu juga punya target, selain target lending yang tiap tahun naik, juga punya target laba. Bagaimanapun bila kreditnya macet, maka bankir tersebut bisa dimutasi, ga dapat bonus, ga dapat kenaikan gaji, terjeleknya ga ada kenaikan grade. Belum lagi setiap kredit macet itu menggerus laba bank, makanya bankir pun pastinya berusaha agar usaha nasabahnya semakin menanjak.

    Maaf ya Mas kebanyakan nulis,
    lagi penat ni, jadi ngrusuhin blognya hehe..

    • @Uchideotosan : Mas Yusuf, terima kasih atas ulasannya…gak kok kalau “ngrusuhin”, malah terima kasih tambah ilmu….emang kalau dilihat dari perspektif LDR (Loan Deposit Ratio) logikanya pasti pinjaman yang disalurkan mestinya lebih besar. Tapi titik tekan saya, walaupun rambu-rambu perbankan lebih prudent, dimana peraturan BI ada yang menyarankan untuk memberikan pinjaman untuk usaha yang sudah beroperasi minimal 2 tahun. Tapi perlu dicari parameter lain yang bisa menyalurkan dana ke usaha/bisnis tanpa harus terpaku secara rigid terpaku pada hal itu tapi mencari solusi lain yang tidak harus seperti itu tapi tetap mengedepankan kehati-hatian (prudent). Semoga semakin banyak bisnis yang bisa mekar dibantu peran pinjaman seperti ini. Salam hangat Mas….

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén