Aspek Spirituil Dalam Bisnis

Aspek Spirituil Dalam Bisnis Aspek Spirituil Dalam Bisnis suprime mortgage worldeconomyfinance net

Beberapa saat yang lalu saya bertandang di salah satu training center salah satu bank papan atas negeri ini di kawasan Jakarta Pusat. Di sela-sela pertemuan tersebut, saya berpapasan dengan seorang pembicara agama/rohaniawan yang wajahnya acapkali bolak-balik muncul di kayar televisi. Mengapa seorang rohaniawan berada di training center sebuah bank? Ternyata, saya mendapatkan info bahwa pelatihan untuk semua karyawan di bank ini menyertakan silabus mengenai aspek spiritual dalam bekerja, dan pembicara agama yang tidak sengaja ketemu di training center tersebut didapuk untuk mengisi sesi tersebut untuk semua kelas.

Dengan sedikit ingin tahu, saya menanyakan kepada pimpinan training center bank tersebut, apakah silabus “spiritual” yang diintrodusir untuk seluruh karyawan cabang karena memang dibutuhkan atau kah sekedar lip service biar pelatihannya “terkesan adem” karena ada unsur agamis? Dengan tegas beliau menjawab, “Sebaik apapun sistem bisnis dibangun dan secerdas apapun SDM yang dipekerjakan, tanpa spiritual soul yang memadai tetaplah akan mengundang kebocoran”, paparnya dingin. “Silabus bernuansa spiritual dalam bisnis ini berfungsi untuk mereduksi itu”. Karena ruh spiritual dibangun dikaitkan antara etika kerja yang baik dengan keintiman hubungan dengan Sang Pencipta (Ibadah). Sebuah statement yang menarik.

Agaknya pimpinan training center Bank yang cukup makan asam garam tersebut sadar bahwa “the man behind the gun” akan sangat “membahayakan” apabila tindak-tanduknya hanya didasarkan semata pada pelajaran tentang hukum ekonomi yang hanya mengagungkan mendapatkan profit sebanyak-banyaknya, tetapi abai bagaimana cara mendapatkan profit tersebut. Meskipun di Negara adidaya yang sistemnya canggih saja, kasus Suprime Mortgage Crisis di Amerika Serikat beberapa waktu lalu misalnya, bisa saja terjadi. Kasus itu kalau diusut-usut kan sejatinya berujung pada keinginan mengejar profit yang sebanyak-banyaknya dengan dibingkai sistem yang canggih yang berbau fraud.

Di tengah deraan persaingan yang begitu ketat, mendapatkan satu jengkal kemajuan meraih profit semakin susah, ditambah himpitan kebutuhan hidup yang kurvanya selalu naik (ndak pernah turun), godaan mendapatkan profit dengan jalan melacurkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai manusia memang terbentang luas dan lebar, dan gampang. Justru pada titik inilah tetap menyisipkan balutan spiritual dan etika sebagai filter ketika berbisnis seperti yang diimplementasikan senior saya di sebuah training center di sebuah bank layak diapresiasi. Semangat profesionalisme dalam berbisnis tanpa dilambari aspek spiritual hanya akan melahirkan manusia-manusia cerdas dan piawai tetapi alpa menebarkan sisi-sisi kemanusiaan dan kesprituilannya dalam melakoni bisnis.

Dengan menghubungkan benang merah antara berbisnis dengan ruh spiritual tadi, diharapkan pelaku bisnis dan juga kalangan profesional bisnis menyakini bahwa melakoni bisnis secara benar bukan sekedar didorong karena aturan-aturan main memang mengatur itu, tetapi lebih jauh menjalani bisnis dengan koridor yang benar karena itu merupakan sebuah wujud ibadat yang lebih tinggi kepada Sang Penguasa Alam. Sehingga kalaupun kesempatan untuk melenceng dari koridor dimungkinkan karena ada kelemahan di sistem, tetapi karena mempercayai melakoni dengan benar adalah merupakan perwujudan menjalankan perintahNYA, penyimpangan-penyimpangan dalam bisnis yang masih carut marut terjadi di negeri ini bisa diminimalisir.

Sudah saatnya pelaku bisnis dan profesional bisnis tidak hanya piawai menerapkan praktek-praktek bisnis, tetapi juga tidak gagap ketika harus membangun pertemuan yang intens dengan Sang Pencipta. Saatnya untuk mengaitkan benang merah antara bisnis dan ruh spiritual. Karena menyadari bahwa Sang Pencipta Maha Melihat, segala tindakan yang melenceng dari koridor dan etika bisnis pastilah dihindari. Malu dilihat Tuhan, bukan sekedar takut dipenjara atau dihukum.

Credit Photo : www.worldeconomyfinance.net

Previous

Menyimak Kota Pro Bisnis

Next

10.000 Hour Rule

2 Comments

  1. pemikiran yang sangat menarik mas Donny! dan pasti di training center itu tidak sekedar siraman rohani layaknya pengajian biasa, tapi paling tidak disampaikan materi yang berkorelasi dengan proses bisnis itu sendiri. sangat inspiratif, patut ditiru…

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén