Angin Perubahan agar Sang Gajah Bisa Menari

P7080005 Angin Perubahan agar Sang Gajah Bisa Menari Angin Perubahan agar Sang Gajah Bisa Menari p7080005It’s has to be no.1 or No.2 in the market….otherwise it will be fix, sell, or closed” (Jack Welch, GE CEO 1982-2001).

Atmosfer Bisnis selalu berubah, dan kecenderungan kekiniannya perubahan semakin cepat dan singkat. Disisi lain, pelanggan akan semakin menuntut kualitas prima, lebih selektif dan cerewet, kurang loyal, dan punya basis informasi yang kuat (well-informed). Kalau perubahan tidak bisa dikelola dengan baik, tak ayal lagi terpuruk dalam kerugian yang berakhir pada penutupan perusahaan tinggalah menunggu waktu. Trus, bagaimana mengelola perubahan di perusahaan agar berhasil yang berujung pada survive-nya perusahaan di tengah gempuran persaingan yang ketat?

Beberapa saat lalu, saya dan tim diberi kepercayaan klien kami untuk mengisi sebuah workshop pelatihan untuk level Kepala Divisi dan Manager. Tema yang diusung adalah mengintrodusir Manajemen Perubahan di perusahaan (Change Management). Melihat judul dan peserta dengan level menengah-atas yang cukup kenyang berkutat dengan “birokrasi pelat merah” (kebetulan Klien kami adalah perusahaaan milik pemerintah), kita mencoba mengundang konsultan tamu yang berpengalaman mengimplementasikan manajemen perubahan di perusahaannya, Bapak Handry Satriago. Director Power Generation GE Energy Indonesia. Tulisan berikut disarikan dari presentasi dan diskusi interaktif dengan beliau selama pelatihan berlangsung.

Idealnya “perubahan” itu seyogyanya diusung dari dalam, tanpa harus mengalami proses perubahan yang “diintervensi” pihak luar. Jadi ada kesadaran untuk berubah, bukan dipaksa berubah. Tetapi fakta membuktikan acapkali ketika perubahan diintrodusir dalam kondisi perusahan sehat, biasanya mengundang resistensi dari dalam. “Kita sehat kok, mengapa harus ke dokter?” pertanyaan seperti itu yang kira-kira muncul. Padahal ketika perubahan dilakukan ketika kondisi perusahaan sakit, bak kesadaran yang datang terlambat. Biasanya cukup berat, karena cash-flow sudah seret, moral pegawai sudah gak karu-karuan, biasanya di perusahaan yang sakit yang tinggal hanya pegawai “buangan” yang kurang kompeten yang takut di PHK, yang kompeten sudah “kabur” duluan. Bisa ditebak ending dari perubahan yang diusung pada masa krisis….”gatot” alias gagal total.

Dicontohkan oleh Pak Handry, ketika GE masih dibawah kepemimpinan CEO legendaris Jack Welch, GE bak Gajah besar yang sulit bernafas dan bergerak. Awal 80an posisi mempunyai 350 unit bisnis, 400.000 karyawan, struktur jenjang karyawan lebar, dengan fokus pada pasar Amerika Serikat. Sebelum kematian menghampiri , Jack Welch bervisi “Gajah GE” harus bisa menari dan berdansa. Beliau mengeluarkan statemen perusahaan yang “menggetarkan” setiap kepala divisi unit bisnis di GE kala itu. “It’s has to be no.1 or No.2 in the market….otherwise it will be fix, sell, or closed” ujarnya. Sebuah Visi perusahaan yang teramat terang benderang, jelas, dan tidak multi tafsir. Sebuah keputusan pahit namun harus diambil sebelum sang gajah berhenti bernafas karena kegemukan dan kolesterol yang akut.

Akhir tahun 80-an perubahan yang dihembuskan membuahkan hasil. Dari 350 unit bisnis hanya tersisa 11 unit bisnis inti. Dari 400.000 karyawan dipangkas menjadi 316.00 karyawan, dan struktur jenjang karyawan diperas lebih ramping. Visi domestik yang hanya menggarap Amerika diputar 360 derajat menjadi fokus pada global market. Dan hasilnya pertumbuhan keuntungan menjadi double-digit ketimbang sebelum angin perubahan dihembuskan. Sang Gajah tidak sekedar ramping dan menarik, tetapi lebih sehat dan bisa menari balet !!

Riset membuktikan kegagalan perubahan berawal dari visi tidak jelas dan menari-nari di wilayah abu-abu, karenanya langkah diusung Jack Welch dengan meniupkan visi yang jelas membuahkan hasil. Tapi bagaimana jika tipe pimpinan ini hidup di kultur Indonesia ? Riset Bapak Rhenald kasali, PhD dalam bukunya Change (2005) menuturkan masyarakat (Indonesia) kurang memberikan tempat pada pimpinan yang tegas. Tetapi akan memberikan tempat dan ruang pada pimpinan yang populis. Yakni pimpinan yang lebih banyak memberikan ketenangan, kenyamanan, dan janji-janji semu ketimbang tindakan-tindakan yang mungkin menyakitkan kalau dilaksanakan seperti angin yang dihembuskan Jack Welch tadi.

Terus bagaimana kalau begitu? Berarti seorang pimpinan (CEO) Indonesia untuk mampu menyukseskan perubahan dalam perusahaannya harus siap “dimusuhi” dan tidak popular. Ini memang tidak ringan, karena tidak setiap aksi perubahan tidaklah seperti menyeruput minuman yang segar nan manis, acapkali harus menelan pil yang cukup pahit. Bagaimana perubahan tetap berjalan tetapi tidak sampai dicap pimpinan yang tidak populis? Jawabannya adalah perubahan ditiupkan sesegera mungkin, biar tidak sakit dan tidak menelan pil pahit, ya harus menjaga kesehatan sedini mungkin. Sebuah solusi yang perlu direnungkan bersama agar perusahaan-perusahaan di Indonesia mampu “berubah” di tengah persaingan yang semakin mengetat.

*Tulisan ini didedikasikan untuk Bapak Handry Satriago yang tetap bersemangat membagi ilmunya walaupun dengan duduk di kursi roda selama pelatihan berlangsung. Bagi perusahaan yang menginginkan in house training “Change Management” seperti topik di atas, silahkan menghubungi di sini.

Previous

Sang Penantang Pasar itu bernama Yamaha

Next

Meretas Pindah Kuadran Agar Tidak Berdarah-darah

9 Comments

  1. Kepekaan membaca “perubahan” dan mensiasati dengan strategi adalah tuntutan bagi seorang Leader (CEO), terlebih bagi perkembangan jaman yang terus pesat dan sewaktu-waktu berubah. Maka kemampuan membaca perubahan dan merekonstruksi kembali strategi2 dalam perusahaan sangat diperlukan.
    Halnya bagi post-post dibawahnya pun mesti sigap dan siap menghadapi perubahan-perubahan itu.
    Mendiskusikan bersama secara berkala tentang kemungkinan2 perubahan secara global setidaknya akan bisa membuat legawa semua pihak dalam manajemen.

    terimakasih mas don, tulisanmu bagus sekali.

  2. Percobaan awal memang begtu pasti CEO berat dan banyak rintangan…

  3. Weka

    secara filosofi; semua hal berubah kecuali perubahan, karenanya ide dasar workshop ini sangat bagus, karena antisipasi terhadap perubahan memang selalu harus dilakukan.

    taruhlah contoh, sebelum bisnis ponsel ada, telkom memonopoli bisnis telekomunikasi di indonesia, hampir tiap tahun biaya pulsa meningkat, biaya pemasangan pun mahal, demikian pula bisnis turunannya; wartel, yang bertebaran di mana-mana.

    Seiring masuknya teknologi, wartel berguguran, saat ini –case; jogja, tinggal satu / dua. Seiring waktu semakin banyaknya operator selular memunculkan persaingan yang sangat ketat, sehingga mau tidak mau harus berfikir keras tentang satu kata ‘efisiensi’

    Hasilnya bisa di tebak, belakangan ini tidak terdengar berita kenaikan tariff ( bahkan sebaliknya untuk pemakaian sejumlah tertentu akan mendapat hadiah yang di undi kemudian, juga bea pemasangan sangat murah), ini berlaku untuk pemasangan speedy (yang di iklan Cuma sekian puluh ribu rupiah), lengkap dengan paket hemat untuk internetan.

    Inilah realitas perubahan  yang tidak mampu mengikuti seleksi alam di mohon ‘harap maklum’.

    Akhirnya, menurut saya yang paling menarik dari workshop ini adalah keberadaan perusahaan plat merah sebagai peserta workshop. intervensi pemerintah dapat mementahkan wawasan/ide segar yang di dapat dari workshop, jadi bagaimana mensiasati tekanan politik untuk perubahan (progress) adalah materi untuk workshop berikutnya :p

  4. wah mantaps bagt ulasannya …
    bener2 kalo mau sukses memeang gak harus populis dimata bawahan 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén