Agar Singgasana Bisnis Tidak Melayang Agar Singgasana Bisnis Tidak Melayang falling down stairs

Success breeds complacency. Complacency breeds failure. Only the paranoid survive” (Andrew S.Grove dalam buku Only The Paranoid Survive)

Minggu lalu ketika ada urusan di Jogja, saya mampir dan menginap di rumah. Sambil memandangi foto-foto masa lalu yang terpampang di dinding, sesaat tatapan saya berhenti di sebuah lemari kaca di sudut ruangan. Di lemari itu, terdapat sederetan buku-buku ensiklopedi nan tebal terbitan Amerika tertata dengan wajah sedikit kusam karena termakan usia, tetapi masih dalam kondisi baik. Ingatan saya sesaat melayang, kala itu Ayah saya membelikan sejumlah buku serie ensiklopedi untuk dibaca untuk kita semua. Saya lupa harganya kala itu, tapi saya yakin harganya tidaklah murah, belum banyak orang bisa membeli ensiklopedi berjilid-jilid kala itu. Tapi Ayah saya tidak sayang keluar duit kalau untuk beli buku. Tapi kini, saya mendengar perusahaan publisher terkenal itu, kondisinya “tidaklah seperkasa” dahulu, untuk tidak mengatakan terengah-engah.

Era keterbukaan informasi melalui dunia maya agaknya melindas model bisnis ini. Sederetan buku yang berisi informasi yang teracik dalam bentuk seri buku ensiklopedia tebal dengan cetakan mewah di kertas-kertas luks menawan namun harganya mahal agaknya sudah tergantikan. Cukup dengan beberapa keping CD saja yang harga produksinya berkali-kali lebih murah, informasi yang berbuku tebal itu dapat digantikan. Disisi lain, mudahnya akses informasi melalui internet telah mempercepat terjungkalnya singgasana dominasi (market leader) yang digenggam perusahaaan penerbit tersebut. Mungkin masih tetap survive, tetapi panen raya “keuntungan” usai sudah.

Di Indonesia, cerita hampir sama dengan alur cerita sedikit berbeda banyak yang bisa dipaparkan. Sebut saja sebuah merek motor yang dua puluh tahun lalu memegang mayoritas market share dengan selisih cukup signifikan dengan pesaingnya, mulai dikejar kompetitor utamanya. Sebuah Rokok yang terkenal dengan rokok kretek lintingannya yang dicampur dengan cengkeh, mulai disalip oleh sebuah rokok yang mendeklarasikan low tar. Seiring dengan naiknya kesadaran akan kesehatan, jurus itu mampu memupuskan keperkasaan sang pemilik singgasana bisnis. Di ranah internasional, ponsel Nokia yang memegang kendali dominasi mulai gerah karena pasarnya terus menerus digerus oleh alternatif ciamik yang lebih peka dengan keinginan konsumennya seperti RIM dengan Blackberry-nya, iPhone dari Apple.

Kondisi bedug peperangan dalam bisnis yang alpa ditabuh inilah yang menyebabkan Andy S Grove, yang kala itu masih CEO Intel, dan yang juga pernah dihadiahi majalah Time sebagai Man of the Year 1997 dan CEO of The Year oleh CEO Magazine mengingatkan perlunya menghadirkan “sense of paranoid” agar tetap survive. Sepertinya berlebihan, tapi itulah yang beliau sarankan dalam bukunya yang laris manis bertajuk Only The Paranoid Survive. Empuknya singgasana bisnis terkadang melenakan, apalagi ketika nama besar dan gema puji-pujian mulai disematkan dan disandang. Kelengahan terkadang fatal akibatnya.
Ada beberapa kesalahan umum yang biasa dilakukan sang pemegang singgasana ketika tidak menyadari tergerogotinya pangsa pasarnya. Ada dua kesalahan umum yang sering dilakukan.

Pertama, seringkali perubahan yang tidak langsung berhubungan dengan produk/jasa diluncurkan dianggap tidak mempunyai efek langsung. Padahal kenyataannya tidaklah begitu. Coba kalau penerbit ensiklopedi tadi “membaca” arah angin perubahan dalam pencarian informasi, sebelum terengah-engah beneran, sudah mulai digagas menjual produk dengan media lain (tidak harus dicetak dalam buku), mungkin perusahaanya terhindar dari kejatuhan yang cepat dan berdarah-darah.

Kedua, sebagai pemegang kendali utama dengan pangsa pasar terbesar terkadang melahirkan rasa “malas” untuk mendengar serangkaian input perubahan yang dibisikkan oleh konsumennya. Sehingga perperilaku “safety player” lebih meraja, sehingga malas berubah. Dari malas berubah ini melahirkan malas untuk “bergerak”. Malas berpikir. Dan ujungnya malas melayani. Ini persis seperti yang dilakukan oleh Sang pemegang singgasana di industri motor, Sudah menggenggam porsi terbesar jadi ‘malas’ berubah, lalu lebih parah lagi ‘malas’ berinovasi. Lha dengan begini-begini saja, pembelinya pada datang berjibun. Akhirnya pelayanan ke konsumen agak terabaikan dan konsumen mulai berpaling dengan pindah ke lain hati.

Jadi apa sudah Anda lakukan untuk mempertahankan konsumen, ketika situasi pasar masih memihak Anda? Kalau Grove menyarankan untuk “paranoid”, bagaimana dengan manuver bisnis Anda untuk itu?

Photo Credit : mockable.org