Agar Sense of Intrapreneur Mekar di Perusahaan

Agar Sense of Intrapreneur Mekar di Perusahaan Agar Sense of Intrapreneur Mekar di Perusahaan intrapreneur

Seringkali deraan yang menyergap perusahaan-perusahaan besar, yang gembul, menjadi lebih birokratis terkadang tidak kalah karena didera persaingan yang akut. Akan tetapi terkadang disebabkan menguapnya secuil sense of intrapreneur  di tubuh perusahaan tersebut. Ada entrepreneur, ada intrapreneur, ada bedanya? Kalau entrepreneur tentunya sudah banyak yang memahami. Tetapi intrapreneur? Gampangnya, idem ditto dengan entrepreneur tetapi intrapreneur dalam konteks perusahaan. Artinya, perlunya jiwa entrepreneur tumbuh pada individu dalam perusahaan.

Terkadang perusahaan yang sudah besar dan mapan, bisnisnya berjalan bak galibnya, sehingga terjebak rutinitas produksi maupun rutinitas pelayanan jasa yang “monoton”. Ujung-ujungnya. Karena “merasa” perusahaan besar, terkadang “terlambat menyadari” kalau kompetitor bergerak lebih lincah dan cepat, tidak terasa menyebabkan perusahaan menjadi lamban dan tidak responsif. Pada titik ini, sense of intrapreneur yang titik pentingnya  melakukan breakthrough, dengan mencari hal-hal di luar kebiasaan operasi perusahaan dan mencari jalan apa saja agar tidak jatuh merugi menjadi urgent.

Contohnya, Sony di era 70-80an kerap merangsang karyawan ber-intrapreneur-ship dengan menemukan serangkaian produk teknologi yang dibutuhkan sekaligus one step ahead dibanding kompetitornya. Sehingga produk seperti walk man yang monumental, Play Station yang digilai banyak orang. Hal itu menunjukkan di era itu, Sony berhasil merangsang sense of intrapreneur. Karyawan dikondisikan menjadi kreatif dan bisa berperilaku bak “entrepreneur” di dalam perusahaan seperti dilakukan Sony merupakan signal  bahwa intrapreneur mekar di perusahaan itu.

Memang semakin besar sebuah perusahaan, ada kecenderungan intrapreneurship cenderung sulit mekar :

Pertama, biaya kegagalan terkadang tinggi karena setiap “kegagalan” sering dituding ketidakefisienan, sementara ketika program intrapreneur berhasil, tingkat penghargaan rendah. Bisa ditebak, karyawan yang mempunyai jiwa intrapreneur tidak mau “ambil resiko”, ketimbang ditunding sebagai bagian kegagalan sementara kalau berhasil, penghargaan tidak seberapa. Pilihan untuk tidak ber-intrapreneur akhirnya menjadi pilihan.

Jalan keluar sandungan pertama ini adalah, perusahaan harus mempunyai batasan atau resiko terukur, sampai titik berapa, kesalahan bisa ditolelir. Sehingga tidak men-discourage intrapreneur  sense yang dimiliki karyawan. Kalau hal ini terjadi, sayang sekali.

Kedua, Perusahaan besar biasanya ditandai dengan “mapan”-nya sistem dan SOP-nya. Pada titik ini, permasalahan bukan ada di kemapanan, tetapi kemapanan terkadang menganulir “kegilaan” ide yang diusung oleh karyawannya. Ini yang kontraproduktif. Karena terkadang dimulai dari kegilaan yang tidak ada SOP-nya ini, inovasi yang dibutuhkan dalam bisnis mekar.

Jalan keluar untuk mereduksi sandungan kedua ini, pihak manajemen harus berani mengakomodir ide gila yang diusung oleh karyawan. Perasaan comfort zone yang berlebihan yang lahir harus didobrak eksistensinya.Karena perasaan ini terkadang terasa “menenangkan” tapi sesungguhnya membahayakan.

Ketiga, Perusahaan besar itu identik dengan birokrasi yang berlapis-lapis dan SOP yang baku tetapi biasanya kaku dan rigid. Suasana ini adalah musuh besar dari mentalnya penerapan intrapreneur di kalangan karyawan. Pihak Manajemen harus rajin meneliti dan memangkas SOP yang tidak pro intrapreneur ini.

Penerapan SOP yang terlampau birokratis harus dikurangi sehingga  karyawan tidak “malas” melakukan perubahan. Kasus group Wing yang memasuki pasar toiletries Afrika, ketika perusahaan lain sedang mencoba meretas “pasar sulit” Eropa dan Amerika Utara merupakan contoh diamininya dipotongnya birokrasi untuk menjajal pasar lain yang tidak banyak perusahaan memikirkan untuk menggarapnya (menggarap sesuatu yang tidak seperti biasanya).

Jadi sekarang bagaimana program intrapreneur diterapkan di perusahaan Anda?

Credit Photo : www.savvyintrapreneur.com

Previous

Ulang Tahun Ke-3 dan artikel Terbaik

Next

Mantan Kenshusei Mengepalai 300 Karyawan

2 Comments

  1. Terima kasih dan semoga sukses selalu.

    Artiel ini sangat bagus.

    Salam….

    Hans S. Mandalas
    Promotor Seminar International( 27 x )
    Philip Kotler Seminars,( Father of Modern Marketing ) 1991, 1994, 2007 ( Jakarta dan Bali )
    Peter F. Drucker ( Father of Modern Management,Grand Father of Marketing ( 1996 Kuala Lumpur ) Co-Promotor
    Jay Levinson,Father of Guerrillla Marketing 1995 dan 2010 ( Jakarta, Bandung )
    Drucker Seminar by William Cohen, Major General. USAIRFORCE Res. Ret ( Jakarta, 2008 )

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén