Agar Berbisnis Tidak Berakhir Hanya Dengan Sekeping Uang

Agar Berbisnis Tidak Berakhir Hanya Dengan Sekeping Uang Agar Berbisnis Tidak Berakhir Hanya Dengan Sekeping Uang stair to heaven

Salah satu “jalan-jalan” menyenangkan bagi saya, salah satunya adalah menyambangi toko buku, lalu membaca bertebaran buku-buku baru nan menarik, mengecek buku yang resensi-nya sempat dilirik di majalah atau blog yang biasa dihampiri. Setelah puas ber-window shopping, lalu mencomot beberapa buku yang menarik, menyerahkannya ke kasir lalu membawanya pulang ke rumah. Lalu ritus membaca pun dimulai, sambil berasyik masyuk dengan lembar tiap lembar halaman sembari sesekali mencocol sambal dengan tahu isi panas yang tersaji dengan sesekali menyeruput segelas teh madu hangat. Ehmmm…toop markotop…..itu sebuah kenikmatan tersendiri bagi saya.

Tapi akhir-akhir ini, ada sedikit hal yang “mengganggu” ketika melakoni ritus jalan-jalan ke toko buku. Ada banyak Judul buku yang terkadang membuat saya “terkesiap”, misalnya judulnya : Cara Kaya menjadi Anu, atau Menjadi Milyader Cepat dengan XYZ disertai cover depan yang rata-rata didesain dengan aksen yang memikat hati. Rata-rata buku yang nangkring di rak buku baru memang didominasi dengan judul-judul “provokatif” yang melambai-lambai mengundang untuk kaya dengan “jalur cepat”. Sah-sah saja sih sebenarnya. Berita baiknya adalah, timbul kesadaran tinggi untuk mulai menggelindingkan bisnis di negeri ini. Tidak harus melalui surat lamaran saja. Bukan rahasia lagi, jumlah perbandingan jumlah usahawan di negeri ini masih terlampau sedikit. Cuma yang sedikit mengganggu pikiran adalah…..apa iya sih berbisnis itu hanya akan berujung dengan “langkah singkat” bergelimpang dengan uang semata ?????

Saya melihat, mengelindingkan bisnis mendatangkan beberapa “kekayaan” yang tidak sekedar mengail gemerincing uang semata, tetapi juga bisa mengail “kekayaan” lain yang tidak kalah mengkilapnya kalau kita mampu merengkuhnya.

Kekayaan pertama, adalah kekayaan materi serta kekayaan “kepuasan diri” itu sendiri. Sekecil apapun bisnis yang Anda lakoni, sekecil apapun omset yang Anda comot ketika bisnis Anda bisa menggelinding, kemungkinan meraup materi yang di atas rata-rata kemungkinan terpenuhi. Mungkin klise, tapi meminjam ucapan bapak “kaya”-nya Kiyosaki, “uang itu bukan segalanya, tapi dengan uang, kehidupan menjadi terasa lebih mudah”. Nah salah satu jalan merengkuh uang dengan jumlah di atas “rata-rata” adalah dengan berbisnis. Kalaupun Anda, bukan berbisnis sepenuhnya, menjadi pegawai sebuah perusahaan tetapi juga mempunyai usaha sampingan (side job), itu berarti pendapatan Anda menjadi double bukan?

Lebih asyik lagi, kalau apa yang Anda bisniskan adalah merupakan passion serta hobi Anda. Itu lebih menyenangkan. Ibarat “bermain-main” seakan-akan tidak bekerja, apa yang dikerjakan dapat menghasilkan uang. Karena tidak semua yang kita kerjakan merupakan passion dan kesukaan kita bukan? Tetapi karena tuntutan kebutuhan, harus dilakoni. Jadi kalau bisnis yang digelindingkan “berhasil” dan Anda mempunyai passion di bidang itu, maka ada efek “kepuasaan diri” yang terkadang nilainya lebih dari sekedar uang.

Kedua, “kekayaan Berbagi Sesama”. Sekecil apapun bisnis Anda, kalau sudah menggelinding Anda akan membutuhkan “bantuan” orang lain. Mulai dengan tim atau karyawan yang diperkerjakan, bersama keluarganya kalau mereka sudah berkeluarga, secara tidak langsung dapat hidup dari usaha yang Anda gelindingkan. Belum lagi deretan pemasok, supplier yang juga hidup dari bisnis ini. Akan semakin panjang rantainya. Saya pernah melihat, sebuah usaha bisnis keluarga yang tidak besar-besar amat, tapi survive cukup lama, ada anak dari salah seorang karyawan sudah besar dan berumah tangga. Ada rasa bangga di hati sang pelaku bisnis, usahanya sedikit banyak, melahirkan seulas senyum dan asa kepada para pegawai yang bekerja disitu. Tak jarang, hubungan “atasan-bawahan” menjelma menjadi hubungan “persaudaraan” yang lekat dan kental.

Seperti saya merasa ikut “gembira suasana hati” saya, ketika salah satu karyawan di kantor saya yang sorenya menyempatkan kuliah seusai jam kantor, setelah berjibaku mati-matian bisa menyelesaikan kuliahnya. Walaupun tidak besar apa yang saya bisa bantu, foto wisuda yang diperlihatkan kepada saya sudah ikut membuat hati “nyaman” mekar dan berbunga-bunga. Sebuah “kekayaan” yang jarang diulas di buku-buku tip menjadi kaya yang sering saya perhatikan.

Ketiga, “Kekayaan Spiritual”. Nenek saya pernah mengingatkan untuk tidak lupa dan selalu “menyisipkan” Kuasa Illahi dalam segala aspek kehidupan, termasuk berbisnis. Sehingga ketika roda bisnis digelindingkan, selalu ada keinginan akan lahir keberkahanNYA . Sehingga bisnis yang digelindingkan tidak sekedar dibangun karena ingin meraih puja-puji materi semata tetapi juga efek mendekatkan diri kepadaNYA. Secara tidak langsung kita selalu diingatkan puja-puji materi tersebut tidak pernah sekali-sekali akan dibawa di “alam” yang lain. Tetapi hasil puja-puji materi itu dipakai sebagai “payung spiritual” kita untuk semakin tunduk dan dekat kepada Yang Maha Agung. Yah, kematian yang menjemput adalah keniscayaan, semua orang pasti mengalaminya. Tinggal “nomer antri” kita berbeda-beda.

Jangan sampai serentetan buku-buku ber-cover indah yang membimbing kita mengejar uang habis-habiskan membuat Anda hanya terpaku hanya pada kekayaan materi semata, tetapi ada “kekayaan lain” seperti kekayaan berbagi sesama yang bisa kita kail. Dan, tidak kalah penting kekayaan spiritual yang mengingatkan kita akan “kuasa” yang lebih besar serta membuat kita selalu siaga dan tidak lupa bahwa menjadi sebaik-baik orang adalah yang paling berguna untuk sesamanya.

Bagimana dengan bisnis Anda? Semoga bisnis Anda lancar dan diberkahiNYA…….

Credit Photo : www.koma.be

Previous

Menunggu Regulasi Pemerintah nan “Pro Lokal”

Next

Menampik Terang-isme dan Bercita-cita Jadi Superman

8 Comments

  1. septi

    Jangan sampai serentetan buku-buku ber-cover indah yang membimbing kita mengejar uang habis-habiskan membuat Anda hanya terpaku hanya pada kekayaan Spiritual semata,

    ==> sedikit koreksi, mgkn yg dimaksud disini adalah kekayaan material kali y pak? 🙂

    • @Septi : Mba Septi, terima kasih atas koreksinya, sangat teliti dan jeli 🙂 Betul koreksi Anda maksud saya “kekayaan materi”. Sudah langsung saya koreksi 🙂

  2. Andreas Mulianto

    Don, artikel yang menggelitik. Saya rasa ini bisa kembali ke pertanyaan mendasar, “Untuk apa manusia hidup di dunia?” Sejak kejatuhan Adam kedalam dosa, agenda (sebagian besar) manusia mengejar kebahagiaan/kesenangan/harta, sambil melupakan Penciptanya. Kekayaan materi adalah sesuatu yang bagi sebagian besar orang sangat menyenangkan, karena bisa membuat mereka bisa memuaskan nafsunya, mungkin dengan membeli barang2 mahal, jabatan bahkan seks. Apabila sudah mampu membeli itu semua, seperti minum air laut, orang tidak akan puas, tapi ingin juga pengakuan dari sesama. Mulailah dengan membagi2 hartanya. Pengakuan akan kemurahan hati pun mulai berdatangan? Apakah cukup? Tidak!! Karena masih ada yang kurang, jangan2 kalau saya mati sekarang saya akan masuk neraka. Lalu mulailah bersikap religius. Syukur2 kalau sikap religiusnya dilihat oleh banyak orang sehingga bisa juga memuaskan kehausan akan pengakuan.
    Mengenai bisnis. Tidak semua orang dilahirkan untuk berbisnis karena tidak punya entrepreneurial skills yang memadai. Jadi apa yang bisa dilakukan? Saya yakin Tuhan punya rencana untuk setiap ciptaanNya. Apabila memang dicipta untuk berusaha, hendaklah ia berusaha. Apabila dicipta untuk menjadi pengajar, hendaklah ia jadi pengajar. Bagaimana dengan kekayaan terutama kekayaan materi? Kekayaan materi, seperti banyak ditemukan dan ditulis, bukanlah hal yang mutlak. Apabila orang bisa memenuhi panggilan Penciptanya, dan berkarya sesuai dengan apa yang Penciptanya kehendaki. Maka “kekayaan spiritual” otomatis akan dia miliki. Setelah “kekayaan spiritual” dimiliki, maka dia akan menjadi lilin bagi sesamanya yang membutuhkan bimbingan dalam dunia yang gelap. Itulah “kekayaan berbagi”. Dan apabila Penciptanya memang berkenan dengan “kekayaan materi” untuk ciptaaNya, jadilah demikian sesuai kehendakNya. Dalam melakukan semuanya itu, hendaklah dalam posisi ciptaan, hendaklah manusia tidak mengejar kebahagiaan pribadi, namun kemuliaan Penciptanya. Kebahagiaan pribadi tidaklah menjadi penting apabila dibandingkan dengan Pencipta semesta.

  3. Rambat

    Betul mas. Banyak atau sedikitnya harta bukan tanda keuliaan atau kehinaan seseorang. Kata bersyukur, bila miskin bersabar masing2 punya kemuliaan…di sisi Allah. Namun betapa banyak yg terfitnah krn harta…

  4. Wisnu Gardjito

    Harta dunia itu HIJAU dan MENGGIURKAN, namun ketika dimakan/diminum kita jadi keracunan dan kehausan seperti kita meminum air laut yang asin penuh garam. Mau perut kita meleduk karena kebanyakan minum air laut ? SIlahkan saja nimati sendiri, kalau saya lebih suka mengambil sebutir buah kelapa, lalu meminum airnya yang segar, sehat, karena air kelapa adalah cairan isotonik alami. Satu butir sehari mampu menghindarkan kita dari aneka jenis kanker (hasil penelitian terakhir di USA). Makanya Madonna cs (Vita coco) terus dibuntuti oleh ONE (Coca Cola) dan Pepsi Cola dalam memeasarkan air kelapa.
    Ayo siapa mau menikmati hidup ? Jangan kejar dunia. Nanti kita diperbudak dunia. Yang penting Hati tenang, ikhlas, dan dipebuhi rasa syukur, namun GOAL yang sudah kita tetapkan HARUS terus diupayakan untuk tercapai …..Negeri Gemah Ripah Loh Jionawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo (Filsafat Jawa) dan Baldatun Thoyyibatun wa robbun ghofur – negeri yang baiik/sejahtera, penuh ampunan dari Tuhan YME (Al Quran).

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén