3 Langkah Agar Mimpi Menjadi Wirausaha Tetap Menyala

3 Langkah Agar Mimpi Menjadi Wirausaha Tetap Menyala 3 Langkah Agar Mimpi Menjadi Wirausaha Tetap Menyala entrepreneur dream

Hari ini saya mendapat jatah mengajar kuliah anak semester awal yang masih segar dan bersemangat di sebuah kampus. Biasa sesi pertama disamping memberikan paparan rencana kuliah satu semester ke depan, saya mengajak mereka mengobrol dengan para mahasiswa baru sambil “mencairkan” suasana. Ada ‘pembelajaran” menarik dari kelas saya ajar hari ini, hampir separuh mahasiswa di kelas itu mempunyai mimpi mendirikan usaha sendiri nantinya setelah sebelumnya bekerja terlebih dahulu setelah lulus. Sebuah fenomena yang menggembirakan menurut saya, walaupun nantinya mereka belum tentu mengambil pilihan ini. Setidaknya sudah terbersit di benak mereka bahwa pilihan berusaha sendiri hadir sebagai sebuah pilihan.

Tapi mengaca problem yang sering saya lihat ketika melihat fenomena teman-teman sebaya saya yang masih bekerja di suatu perusahaan, tetapi pernah mengutarakan niatnya untuk membuka usaha kemudian, seringkali “terhambat”. Persoalaannya beragam, mulai karena berpikir ulang karena sudah mempunyai tanggungan (anak, istri), kengerian usaha yang dibagun nantinya mengalami kegagalan, sampai belutan kenyamanan yang dinikmati (comfort zone) di perusahaan yang sekarang.

Apapun alasan yang disampaikan itu adalah sah-sah saja. Cuma biasanya, kalau obrolan tidak beringsut dari isu-isu di atas, sepertinya keinginan untuk pindah kuadran yang sering didengung-dengungkan sendiri untuk segera memulai “kehidupan baru” bakalan hanya teronggok menjadi sebuah statemen semata. Kalau memang sudah diniati, ada beberapa tip dibawah ini yang perlu dijajal agar kepindahan segera terealisasi.

Pertama, Menggauli teman baru yang berprofesi menjadi entrepreneur. Teman baru yang dimaksud di sini bukanlah harus mencari seorang entrepreneur besar yang sudah sukses. Sehingga sudah banyak media yang meliputnya dan teramat susah dijadikan teman mengobrol karena kesibukan bisnisya yang lumayan besar sedang membelitnya. Tetapi sebaliknya, berkawan dengan seorang entrepreneur biasa yang sedang memulai bisnis. Omsetnya belum terlalu banyak, secara geografis tempatnya tidak terlampau jauh dari tempat Anda. Syukur-syukur, dianya mempunyai kesamaan hobi tertentu yang Anda juga miliki.

Maraknya beberapa komunitas spesifik tentang hobi tertentu belakangan ini merupakan sebuah langkah awal pas untuk bisa membangun pertemanan dengan teman baru yang berlatar entrepreneur. Atau paling gampang Anda menyambangi sebuah seminar bertajuk entrepreneur atau bisnis tertentu, setelah seminar selesai jangan langsung pulang. Sempatkan berkenalan dan membangun pertemanan dengannya. Dengan berteman dengan teman seperti ini, pasti keinginan untuk pindah kuadran akan tetap menyala kuat.

Kedua, Mencermati bisnis kecil-kecilan dimana Anda berperan menjadi pelanggannya. Terkadang Anda mempunyai perusahaan kecil dan usaha kecil dimana Anda sering berhubungan. Mulai dari toko kelontong dekat rumah dimana Anda sering membeli barang tertentu di situ, atau sebuah restoran mungil nan ramai dimana Anda sering disinggahi ketika istirahat makan siang tiba. Atau perusahaan supplier kantor dimana Anda bekerja. Perhatikan cara kerja mereka, cara mereka memperlakukan (menservis) pelanggan. Sebuah pengamatan ringan yang bisa dilakukan ketika bertandang ke sana. Sembari berenang minum air 🙂

Dari pengamatan itu, sedikit banyak melahirkan insight (inspirasi) yang akan merangsang otak Anda melakukan sebuah terbosan seperti yang mereka lakukan. “Mereka saja bisa kok, masak aku gak bisa melakukan hal itu?” Dengan pertanyaan retoris seperti itu, bakal menyemangati Anda untuk bisa menggelindingkan bisnis seperti yang mereka lakukan.

Ketiga, kalau Anda masih tetap ragu sepenuhnya berpindah kuadran dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang ada. Barangkali bisa dimulai usaha dengan pola yang sering saya sebut double Quadrant tactics. Prinsip ini barangkali sedikit merepotkan dan melelahkan, akan tetapi akan lebih bisa meredam “kekhawatiran” akan resiko yang menghantaui. Yakni mencoba memulai bisnis kecil-kecilan, dimana pekerjaan utama sebagai pekerja masih dilakoni. Model bisnisnya, bisa memulai dengan kerjasama bisnis dengan saudara atau teman (perkongsian), memulai sebuah bisnis sendiri dengan menaruh seorang kepercayaan yang akan mengoperasikan usaha tersebut, atau bisa juga menggunakan pola bisnis waralaba yang sudah mempunyai sistem bisnis yang baku.

Semoga dengan tips di atas, keinginan untuk berpindah kuadran yang diimpikan tidak sekedar menjadi wacana dan keinginan tertunda terus menerus. Tetapi sedari awal, sudah ada pengkondisian yang mengarah kesitu dan memperkuat keinginan untuk segera memiliki sebuah bisnis sendiri. Jadi…..silahkan dicoba kalau Anda tidak keberatan dengan langkah-langkah di atas.

Credit Photo : zazzle.com

Previous

Ketika Marketing via Socmed “Keplintir”

Next

10 Pemikir Bisnis dan Manajemen yang Berpengaruh

4 Comments

  1. yudi

    sebuah materi yg sangat menarik mas donny …. kebetulan saya juga ngajar kewirausaahaan … patut disampaikan ke siswaku … trimakasih atas informasinya

  2. Dual system mungkin nggak mas…….?

    • @Dr.Wisnu : saya pikir masih mungkin Pak Wisnu, cuman kalau sudah “membesar” porsinya…..hukum alam pasti berlaku…kita harus “memilih” 🙂

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén