Month: Februari 2012

Ketika Menjual Perusahaan Menjadi Pilihan

Ketika Menjual Perusahaan Menjadi Pilihan Ketika Menjual Perusahaan Menjadi Pilihan sold

Sebagus dan sehebat apapun bisnis yang kita lakoni, terkadang pada titik tertentu kita mengalami kemandegan dalam berbisnis. Ketika mandeg, banyak permasalahannya mendera, diantaranya barangkali dibelit masalah permodalan untuk bisa mengepakkan sayap ekspansi bisnis yang lebih besar. Pada titik itu, salah solusi yang mungkin dipilih adalah menjual perusahaan atau mencari investor untuk memupus halangan itu. Bagimana caranya?

Saya merasa bersyukur mengambil mata kuliah entrepreneur beberapa tahun ketika ngangsu kawruh (menimba ilmu) di Jepang. Di samping sang dosen yang sangat memahami bidang tersebut, Prof.Mikami adalah pengajar sekaligus pelaku bisnis handal. Ujian akhirnya tidak ada test tertulis seperti galibnya mata kuliah lainnya, tetapi kami diminta secara kelompok membikin “bisnis model” yang solid yang layak “dijual” untuk dipresentasikan, tentunya disertai serangkaian riset pasar dan perhitungan lainnya yang harus kami riset. Ujian Akhirnya (UAS), Prof.Mikami memanggil kolega-kolega bisnisnya yang rata-rata adalah entrepreneurs yang mempunyai perusahaan menjadi “algojo” pemberi nilai. Kami diminta untuk mempresentasikan bisnis model yang kami riset dan didiskusikan secara kelompok dalam bahasa Inggris dan Jepang. Bagaimana penilaiannya? Kolega juri tadi (berjumlah 5 orang) yang mempunyai background bisnis cukup solid tersebut diasumsikan sebagai investor yang memegang sejumlah uang. Group yang diberikan kucuran “uang” terbanyak akan mendapat nilai terbaik.

Read More

read more

Menampik Terang-isme dan Bercita-cita Jadi Superman

Menampik Terang-isme dan Bercita-cita Jadi Superman Menampik Terang-isme dan Bercita-cita Jadi Superman mimpi sejuta dolar

Pertama saya mencoba memahami ketika seorang kawan “berkeluh kesah” tidak bisa segera “memulai bisnis”, jawabanya selalu berujung, “Belum bisa dimulai, biasa terbentur masalah modal.” Padahal sebenar betulnya, tidak pas-pas banget alasannya, lha sang kawan ini kalo gak makan harus di resto mahal lidahnya “keplintir” katanya, hampir setengah tahun sekali ganti HP, alasannya untuk ngikutin selera modern. Sebenarnya kalau aku lirik, paling banter HP-nya buat nelpon sama sms, kadang-kadang saja untuk nge-check e-mail lewat HP. Nafsu belanjanya kayak orang “kalap belanja” kalau sedang di mall. Kalau lagi ngobrol sengaja disentil udah ada teman yang mulai bisnis meskipun “nasibnya” jauh dibawah dia, selalu ada alasan jawabnya. Selalu memakai sepenggal mantra “terang-isme,”Lha terang, dia kan anaknya orang kaya, dapat warisan…atau…”Terang dong keluarga istrinya punya bisnis gede…”, cerocosnya. Lama-lama saya menarik kesimpulan….itu bukan masalah “modal” sesungguhnya.

read more

Agar Berbisnis Tidak Berakhir Hanya Dengan Sekeping Uang

Agar Berbisnis Tidak Berakhir Hanya Dengan Sekeping Uang Agar Berbisnis Tidak Berakhir Hanya Dengan Sekeping Uang stair to heaven

Salah satu “jalan-jalan” menyenangkan bagi saya, salah satunya adalah menyambangi toko buku, lalu membaca bertebaran buku-buku baru nan menarik, mengecek buku yang resensi-nya sempat dilirik di majalah atau blog yang biasa dihampiri. Setelah puas ber-window shopping, lalu mencomot beberapa buku yang menarik, menyerahkannya ke kasir lalu membawanya pulang ke rumah. Lalu ritus membaca pun dimulai, sambil berasyik masyuk dengan lembar tiap lembar halaman sembari sesekali mencocol sambal dengan tahu isi panas yang tersaji dengan sesekali menyeruput segelas teh madu hangat. Ehmmm…toop markotop…..itu sebuah kenikmatan tersendiri bagi saya.

read more

Menunggu Regulasi Pemerintah nan “Pro Lokal”

Menunggu Regulasi Pemerintah nan “Pro Lokal”  Menunggu Regulasi Pemerintah nan “Pro Lokal”  liberalism is mental disorder

Seliberal apapun sebuah Negara, pasti akan berpikir dua kali, bahkan seribu kali kalau policy yang digulirkan akan “membunuh” industri dan perekonomian dalam negerinya. Negara-negara seperti Jepang dan Eropa Barat pasti “memproteksi” habis-habisan industri agronya walaupun dari segi efisiensi sudah tidak efisien. Tapi mereka masih memandang perlu untuk “memproteksi” industri pertaniannya. Jadi kalau ada serangkaian peraturan yang “membelenggu” agar produk pertanian Negara lain tidak masuk. Ini artinya Negara bersangkutan paham betul, bahwa mereka sedang dan wajib melindungi industrinya melalui serangkain regulasi yang memasang “barrier to entry”.

read more

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén