Month: September 2011

Trik Perusahaan China di Afrika

Trik Perusahaan China di Afrika Trik Perusahaan China di Afrika china africa

Dulu saya punya teman yang punya perusahaan keluarga yang sukses “menggarap” ranumnya pasar Eropa dan Amerika Serikat. Kebetulan perusahaan tersebut bergerak di bidang furniture. Hampir tiap bulan puluhan kontainer berisi furniture khas bernuansa etnik dikapalkan ke pasar itu. Cerita suksesnya kadang membuat “iri”. Ketika Dollar dan Euro menguat daripada rupiah, ada saja barang mewah baru yang nongkrong di rumah itu. Ada juga kawan yang keluarga besarnya sukses mengirim baju-baju (tekstil) dalam jumlah besar ke pasar Amerika, idem ditto kesuksesan dan gelimpahan kemewahan merudungi keluarga tersebut.

read more

Bekerja : Menyelesaikan Keribetan Pelanggan

Bekerja : Menyelesaikan Keribetan Pelanggan Bekerja : Menyelesaikan Keribetan Pelanggan complexity

Di awal magang kerja di Jepang , Bos saya di Jepang dulu pernah menasehati saya kalau bekerja itu adalah menyelesaikan “keribetan” yang dipikul orang lain, khususnya pelanggan kita. Walaupun saya menggangguk mengiyakan dengan jawaban ala Jepang “Hai, wakarimashita”, (iya, saya mengerti-red). Tetapi sesungguhnya kala itu saya belum memahami benar arti kata-kata tersebut. Makna filosofis Bos Jepang saya tadi adalah, semakin tertekan kita berusaha menyelesaikan keribetan yang mendera pelanggan kita, semakin bagus dan semakin banyak pengalaman kita memahami pelanggan. Kurang lebih itu filosofi obrolan di atas.

read more

Melirik Jepang Membangun Industri Kecil & Menengah-nya

Melirik Jepang Membangun Industri Kecil & Menengah-nya Melirik Jepang Membangun Industri Kecil & Menengah-nya japanese smes

Dulu saya punya teman magang di Jepang dari Indonesia. Dia sering bercerita tentang perusahaan dimana dia menghabiskan magangnya. Perusahaan Jepang yang kebetulan menjadi tempat magang bukanlah sebuah perusahaan besar, tetapi lebih mirip “perusahaan keluarga”. Karena di dalam perusahaan itu cuma ada 4 orang saja. Pimpinan perusahaan (yang sering dia panggil Sachou), istri pimpinan yang ikut kerja disitu (yang sering dipanggil Okusan), serta satu pegawai berkebangsaan Jepang dan teman saya itu sendiri. Bisnis utama perusahaan tersebut berbasis pada industri bubut yang memproduksi 1-5 item barang “itu-itu saja” yang setelah selesai akan di-packing lalu dikirim ke perusahaan yang sedikit besar yang akan merangkainya item-item barang tadi menjadi produk yang lebih besar. Tapi perusahaan kecil tadi mampu hidup bertahun-tahun lamanya.

read more

Cross Culture Understanding Dalam Bisnis

Cross Culture Understanding Dalam Bisnis Cross Culture Understanding Dalam Bisnis cross culture understanding

Seringkali dalam wacana bisnis, wacana dan perbincangan beraroma cultural acapkali menjadi list terakhir yang dipelajari dan dipahami. Kalkulasi berbau bisnis nan matematis lebih mendominasi dalam lansekap siasat bisnis. Dalam menyusun proposal bisnis misalnya. Memang tidak hal yang salah mengedepankan perhitungkan aspek untung-rugi dalam bisnis. Itu hal urgent. Tetapi mengabaikan pemahaman kultur budaya dalam memulai suatu bisnis di iklim budaya yang budaya dan adat istiadatnya yang berbeda, jelas sebuah tindakan “membahayakan” dalam bisnis.

read more

Kota Pro Bisnis Indonesia 2011

Kota Pro Bisnis Indonesia 2011 Kota Pro Bisnis Indonesia 2011 makasar

Ke Jakarta Aku kan kembali….”, itulah salah satu penggalan lagu lama milik Koes Plus yang mendendangkan cerita bahwa “meraup” uang itu barometernya adalah Kota Jakarta, tinggal boleh dimana saja, tapi mencari uang (berbisnis) Jakarta adalah barometernya. Lagu tadi juga menyiratkan seakan orang “daerah” dianggap kesaktian bisnisnya kurang afdol (kurang lengkap) kalau belum sukses merambah atau kalau yang berbisnis, mempunyai kantor di Jakarta. Tapi sekarang apakah sentra bisnis di tanah air tetap bertumpu selalu di Jakarta ?

read more

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén