Month: Agustus 2010

Menyimak Kota Pro Bisnis

Menyimak Kota Pro Bisnis Menyimak Kota Pro Bisnis kediri primatajoz blogdetik

Tinggal dan berbisnis di Jakarta, kalau dalam satu hari bisa bertemu 3-4 klien sehari yang mengharuskan bertemu face to face itu sudah hasil yang maksimal, itupun dijamin pulang sampai di rumah sudah dipastikan anak-anak sudah pulas tidur di peraduan. Ruas jalan yang macet merupakan salah satu kendala mengapa bertemu lebih banyak klien tidak lagi memungkinkan di Jakarta, “tua di jalan” begitu teman-teman menyebut. Tapi itulah Jakarta, walaupun jumlah uang beredar masih yang tertinggi di banding kota-kota lain, infrastruktur juga cukup memadai tetapi dengan beban kepadatan yang luar biasa, in-efisiensi disana-sini memang tidak bisa dihindari. Terus di kota mana lagi di Indonesia yang kans bisnis-nya masih mengangga lebar?

read more

“Merekonstruksi” Fakultas Ekonomi

"Merekonstruksi" Fakultas Ekonomi "Merekonstruksi" Fakultas Ekonomi professionals1

“Jadi kalau temen-temen yang dulu kebanyakan nilainya A, rata-rata menjadi dosen, researcher, atau kerja di sebuah perusahaan konsultan. Yang mendapat nilai rata-rata B rata-rata mereka bekerja sebagai profesional, baik di institusi negeri maupun swasta. Sedangkan yang nilainya C atau pas-pasan mereka membuka usaha kecil-kecilan sendiri”, ungkap seorang konsultan manajemen terkenal, ketika saya menghadiri seminarnya di kota Gudeg Jogja semasa kuliah beberapa tahun lalu.

Kalau Anda bertandang di sebuah Universitas di Indonesia, coba Anda cermati deretan nama fakultas-fakultas di universitas yang ada di Indonesia. Mungkin ada universitas yang mempunyai fakultas biologi tetapi ada sebagian yang tidak mempunyai. Ada yang mempunyai fakultas kedokteran, ada yang tidak mempunyai. Tetapi coba Anda perhatian untuk fakultas ekonomi–di sebagian universitas ada yang bermetamorfosis menjadi fakultas ekonomika dan bisnis– Hampir semua universitas mulai dari “sayup-sayup terdengar” sampai yang tataran universitas kelas elit hampir dipastikan mempunyai fakultas yang satu ini. Adalah hal langka, sebuah universitas tidak mempunyai fakultas ekonomi di Republik ini.

Read More

read more

Komunitas dan Investasi Emosional

Komunitas dan Investasi Emosional Komunitas dan Investasi Emosional community

Di tengah tren bermunculan berbagai komunitas akhir-akhir ini, terutama komunitas yang berbasis psikografis (komunitas berbasis gaya hidup, kesamaan hobi), menjadikan komunitas sebagai “sasaran tembak” oleh para brand manager dan product manager dari beberapa perusahaan. Tidak jarang para “brand owner” tadi beramai-ramai menggelontori para komunitas tersebut dengan serangkaian pendanaan untuk acara-acara yang dibuat, khususnya acara outbound yang mengundang perhatian khalayak ramai. Besar harapan dengan adanya “perhatian” tersebut akan lahir “ikatan emosional”. Tetapi apakah untuk membangun relasi emosional harus dibangun dengan cara seperti itu?

read more

Era Milik Pemain Amatir

Era Milik Pemain Amatir Era Milik Pemain Amatir snailfree

The reign of the dilettante….” (Crowdsourcing : Why The Power of The Crowd is Driving the Future of Business, karangan Jeff Howe).

Minggu-minggu terakhir ini berita tentang lagu dangdut beraksen disko berjudul Keong Racun jadi pembicaraan dimana-mana. Dua Perempuan jelita mojang Bandung yang berstatus mahasiswa (bukan penyanyi profesional) bernama Jojo dan Shinta yang melakukan lipsynch lagu itu mendadak jadi popular. Dari sebuah “keisengan” semata dengan menaruh klip video lagu di youtube dengan ditingkahi goyang kepala yang menurut saya hal yang baru (saya sempet senyum-senyum sendiri pas lihat gaya mereka “berjoget kepala”…asyik juga ya..heheheheh), bahkan menjadi trending topic di situs mikroblog twitter. Dari “keisengan” tadi, ternyata hasilnya tidak “iseng”, tawaran iklan serta tawaran menjadi model iklan mendadak deras menghampiri. Padahal konon, penyanyi profesional asli lagu Keong Racun sendiri malah tidaklah sepopuler Jojo dan Shinta.

read more

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén