Month: September 2009

Wirausaha = Pengembang Bisnis Jaringan

Wirausaha = pengembang bisnis jaringan Wirausaha = Pengembang Bisnis Jaringan Wirausaha = Pengembang Bisnis Jaringan wirausaha pengembang bisnis jaringanDi depan kelas, salah seorang professor waktu kuliah saya di Jepang berujar langkah pertama untuk untuk mendapatkan “income” yang melebihi CEO perusahaan-perusahaan besar (baca: bukan pemilik perusahaan) adalah menjadi entrepreneur alias wirausahawan. Langkah kedua berani memulai menjadi wirausahawan. Langkah ketiga, kalau gagal harus tetap bermimpi jadi wirausahawan. Saya ketawa dalam hati…..kesannya maksa banget sih jadi wirausahawan. Mengapa berwirausaha?

Di Jepang, atmosphere entrepreneur atau wirausahawan sangat didukung sekali oleh pemerintah Jepang. Tidak heran, SMEs (Small and Medium Enterprises) atau perusahaan kecil yang notabene diretas oleh para wirausahawan di negeri Sakura, menjamur. Dukungan pemerintah Jepang tidak hanya diwujudkan dalam bentuk finansial, akan tetapi dalam bentuk regulasi yang kondusif, misalnya larangan perusahaan-perusahaan besar untuk mengusai produksi dari hulu ke hilir. Misalnya Toyota tetap harus men-outsource beberapa komponen-komponen mobilnya ke ratusan perusahaan kecil. Jadi tidak mengherankan kalau, menjadi wirausahawan adalah sebuah pilihan di negeri Sumo. Menjadi “ kepala kucing“ lebih dipilih ketimbang menjadi “ekor singa“.

Read More

read more

Marketing Beraksen Jepang

Marketing Beraksen Jepang Marketing Beraksen Jepang Marketing Beraksen Jepang marketing beraksen jepangKetika studi di Jepang dulu, salah satu aktivitas favorit saya habis menggumuli hetic-nya tugas-tugas kuliah adalah menyambangi beberapa toko yang menawarkan harga miring, maklum mahasiswa, duitnya pas-pasan. Diantaranya, ber-window shopping di chuko-ya (toko barang seken) yang menawarkan sederetan barang yang masih laik dipakai dari elektronik sampai buku, disamping itu ada toko lain yang merupakan kategori wajib untuk disambangi yakni hyakuen-shoppu (toko seratus yen). Toko-toko hyakuen atau sering kita sebut “toko cepek” yang menawarkan barang-barang berkategori “remeh-temeh” tapi sangat praktis. Namanya juga toko seratus yen, delapan puluh persen barang yang ditawarkan berharga 100 Yen (1 Y=75, jadi sekitar Rp.7500). Toko yang pas untuk kantong dan selera mahasiswa.

read more

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén