Mitra Kongsi Bisnis Yang Harus Dihindari

Mitra Kongsi Bisnis Yang Harus Dihindari Mitra Kongsi Bisnis Yang Harus Dihindari business partners1

Membangun bisnis dengan kongsi atau sendiri adalah sebuah pilihan. Yang kurang menyukai mengambil keputusan sendiri, biasa soliter dalam berbisnis, pingin segera mengeksekusi bisnis yang dilakoni tanpa harus banyak berkonsultasi dengan mitra kongsi, menekuni bisnis secara mandiri merupakan pilihan terbaik ketimbang “memaksakan” diri berkongsi dengan orang lain. Kalau dipaksakan, hasilnya pasti tidak maksimal, malah cenderung jeblok.

 Tetapi sebaliknya, kalau tipe Anda lebih suka berbagi resiko, butuh rekan untuk diajak diskusi sebelum mengeksekusi keputusan bisnis, mencari rekan bisnis yang pas diajak berkongsi merupakan sebuah pilihan yang lebih menjanjikan. Tetapi menurut pengalaman, mencari rekanan dalam berbisnis sungguh bukan hal yang semudah membalikan tangan. Banyak kejadian rekanan bisnis yang menjelma menjadi “musuh” ketika titik temu tidak berhasil disepakati. Tidak jarang yang harus berakhir di meja hijau karena sengketa yang tidak berujung.

 Memang dalam prakteknya, ada beberapa karakter orang yang perlu “dienyahkan” dalam kalkulasi pemilihan mitra kongsi bisnis. Karena melakoni bisnis itu bak membangun komitmen “perkawinan”, kalau Anda memutuskan berkongsi dalam bisnis, beberapa tipe di bawah ini merupakan karakter orang yang perlu dijauhi :

 Pertama, bermental pegawai. Bisa jadi semangatnya menggebu-gebu ketika bertutur pentingnya punya bisnis sendiri, passive income, membangun bisnis yang uang bisa bekerja untuk kita dan jargon-jargon yang dicomot dari Buku Kiyosaki dengan fasih. Tapi perilakunya bukan orang pro bisnis. Barangkali track record-nya sebagai pekerja cukup moncer. Tapi mitra bisnis itu sungguh berbeda dengan pegawai yang cakap. Berharap ada keuntungan yang cepat dan segera, mudah menyerah dalam berbisnis, kurang ada inisiatif bisnis (karena dulu sebagai karyawan terbiasa menunggu komando Bos). Kalau perilaku itu mulai Nampak, hati-hati itu pasti bukan calon mitra bisnis. Tapi barangkali calon pegawai bisnis yang akan Anda lakoni.

 Kedua, bertipe korelis perfeksionis. Tipe secara alamiah bagus untuk berbisnis tapi menjadi penghalang ketika kongsi bisnis baru dibangun dalam tahap permulaan. Tipe ini biasanya bisa dikenali ingin semuanya “bim salabim” siap semua dan dalam kondisi perfect. Maunya semua karyawan yang diinginkan siap, infrastruktur bisnis sudah ada, Padahal awal bisnis tidak semuanya “sesempurna” yang kita bayangkan. Akan banyak kekurangan disana-sini, tapi roda bisnis harus tetap digelindingkan. Perbaikan dilakukan sambil berjalan. Bukan menunggu semua siap sedia secara sempurna, baru jalan. Itu konyol, karena bakal disalip oleh competitor kalau begitu.

 Ketiga, bertipe “artis”. Mohon maaf hal ini tidak bermaksud mem-fait comply orang berprofesi sebagai artis. Sudah menjadi tugasnya seorang artis harus menjaga image, banyak “ngomong” ke media, sibuk menghadiri jamuan makan siang/malam. Barangkali adalah perlu menjaga image dalam bisnis, tapi kalau perilaku “keartisan” lebih banyak diadopsi ketimbang bertindak dan berperilaku sebagai pebisnis. Ada baiknya untuk menghindari tipe ini. Lebih baik tipe ini disarankan untuk mengikuti audisi menjadi artis, itu lebih cocok ketimbang dijadikan sebagai mitra kongsi bisnis.

 Jadi kalau keinginan berkongsi bisnis ada, jauhi tipe-tipe di atas, karena tidak cocok untuk dijadikan mitra bisnis. Bisa berabe itu. Teman-teman atau kolega yang dikenal “luar-dalam” track record-nya sejatinya harus dijadikan prioritas pilihan sebagai kongsi bisnis yang utama. Karena integritas dan kompetensi merupakan faktor mendasar dalam berkongsi bisnis.

Tipe mitra bisnis seperti apa yang Anda cari dalam berkongsi bisnis?

Credit Photos : anotherway.org

Previous

Mengeksploitasi Keunikan ala Singapura dan The Raid

Next

Ikujiro Nonaka : Inisiator Knowledge Management

4 Comments

  1. Sari

    Mas Donny..

    I like this….bisnis apalagi mulai dari awal memang susah…dan partner adalah sesuatu yg sangat susah dicari.
    Mungkin kita harus kenali juga diri kita apakah tipe orang yg bisa berpartner atau tidak?

    • @Sari : Terima kasih Sari atas apresiasinya, betul sekali kita sendiri juga harus melihat diri kita “cocok” tidak kalau harus berpartner dalam bisnis. Seperti yang saya singgung di awal tulisan, hal itu merupakan pilihan yang harus dirujuk ke diri sendiri apakah kita cocok atau tidak untuk berbisnis.

  2. yudi

    setuju kang Donny …
    ini pengalamanku saat merintis usaha dari nol dulu, pernah ketemu dg tipe orang yg pertama dan kedua , teman2 yg tak ajak join dari awal lama2 mereka mundur dengan alasan masih belum jelas hasilnya, mereka minta penghasilan yg kontinyu …. , tuntutan perut keluarga dll ….

    • @Yudi : Mas Yudi, saya juga punya pengalaman hampir mirip dengan Anda…memang tidak bisa disalahkan karena Mind set mereka belum terbentuk untuk siap menerjuni bisnis, jadi tiap bulan inginnya tetap ada pemasukan seperti karyawan….

Tinggalkan Balasan ke Sari Batalkan balasan

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén